Ditinjau dari etimologi, kata tauhid adalah mashdar (kata kerja yang dibendakan), berasal dari kata kerja ; wahhada – yuwahhidu – tauhidan yang memiliki arti menjadikan satu.
Adapun secara istilah, tauhid artinya: Mengesakan Allah dengan sesuatu yang merupakan kekhususan-Nya yaitu rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wash-shifat. (lihat hal ini dalam kitab Al-Qaulul Mufid, hal:5, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin).
A. KEDUDUKAN DAN KEUTAMAAN TAUHID.
Tauhid memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam yaitu:
1. Merupakan inti dari ajaran Islam.
2. Tauhid adalah sebab diutusnya para rasul Allah dan inti dakwah mereka.
3. Tauhid adalah sebab diturunkan kitab-kitab Allah.
4. Tauhid adalah perintah Allah yang pertama kali.
5. Tauhid adalah kewajiban pertama dan terakhir kali.
6. Tauhid adalah jalan pertama kali yang harus ditempuh seorang hamba.
7. Tauhid merupakan syarat diterimanya amalan.
8. Orang yang tidak menerima tauhid, darahnya menjadi halal.
9. Orang yang menerima tauhid, darah dan hartanya menjadi haram.
10. Tauhid adalah sebab disyari’atkannya jihad.
11. Tauhid adalah hikmah diciptakannya makhluk oleh Allah.
12. Orang yang bertauhid akan mendapatkan syafa’at Rasulullah.
13. Tauhid merupakan hak Allah, yang menjadi kewajiban hamba.
14. Tauhid merupakan sarana jalan ke sorga.
15. Tauhid merupakan jalan keselamatan dari neraka.
16. Tauhid merupakan perkara pertama kali yang harus didakwahkan.
17. Tauhid merupakan millah (agama) Nabi Ibrahim yang lurus yang harus diikuti.
18. Tauhid merupakan doa Nabi Ibrahim kepada Allah.
19. Allah melarang hamba-Nya menyelisihi tauhid.
20. Allah memuji kaum mukminin yang bertauhid.
21. Tauhid menggugurkan dosa-dosa.
22. Barangsiapa merealisasikan tauhid, niscaya akan masuk surga tanpa hisab.
B. PEMBAGIAN TAUHID
Berdasarkan pengertian tauhid seperti di atas maka ia bisa dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
1. Tauhid Rububiyyah
Tauhid Rububiyah adalah: Meyakini keesaan Allah terhadap dalam mencipta, memiliki, dan mengatur,menguasai seluruh alam semesta ini. Sebagaimana firman Allah: “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” (Al-Fatihah:2)
Hanya Allah-lah Pencipta seluruh alam semesta ini : “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (Az-Zumar:62)
Adapun firman Allah yang menetapkan adanya pencipta selain Allah, sebagaimana firman-Nya setelah menyebutkan fase-fase penciptaan manusia:”Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al-Mukminun (23):14)
Dan sebagaimana sabda Rasulullah :“Sesungguhnya pelukis gambar-gambar (bernyawa) ini akan disiksa, dan akan dikatakan kepada mereka: “Hidupkanlah apa yang telah kamu ciptakan”.
Kemudian beliau bersabda lagi: “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar (bernyawa) tidak akan dimasuki oleh para malaikat.” (HR. Al-Bukhari)
Maka hal itu bukanlah penciptaan yang sebenarnya, karena ia tidak mewujudkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada, hal itu hanyalah merubah sesuatu dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. Dan juga tidaklah menyeluruh, hanya terbatas pada apa yang mampu dilakukan oleh manusia. Maka tidaklah bertentangan dengan perkataan kita bahwa tidak ada Pencipta kecuali Allah. (Dari perkataan Syeikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, di dalam Al-Qaulul Mufid, hal:6-7)
Hanya Allah-lah Pemilik seluruh alam semesta ini: “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi: dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Ali-‘Imran:189)
Adapun yang menetapkan adanya pemilik selain Allah, sebagaimana pada firman Allah Ta’ala :”(Orang-orang yang beriman adalah) orang-orang yang menjaga kemaluannya, (kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela “(QS. Al-Mukminun: 5- 6).
Adalah kepemilikan yang bersifat terbatas. Memang manusia memiliki apa yang ada di tangannya, tetapi dia tidak memiliki apa yang ada di tangan orang lain. Oleh karena itu manusia tidak boleh bertindak pada apa yang dimilikinya kecuali sesuai dengan apa yang diidzinkan oleh syari’at Allah. (Al-Qaulul Mufid hal:6-7, oleh Syeikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin)
a. Pengakuan Orang Musyrik Terhadap Tauhid Rububiyah:
Tauhid rububiyah tidak diingkari oleh orang-orang musyrik di zaman Rasulullah, bahkan mereka mengakuinya, sebagaimana dinyatakan oleh Allah Ta’ala di antaranya adalah:
قُلْ لِمَنِ اْلأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ(84)سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَذَكَّرُونَ(85) قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86)سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ(86)قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلاَ يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ(88)سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ(89)
“Katakanlah:"Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui" Mereka akan menjawab "Kepunyaan Allah". Katakanlah:"Maka apakah kamu tidak ingat Katakanlah:"Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy yang besar Mereka akan menjawab:"kepunyaan Allah". Katakanlah:"Maka apakah kamu tidak bertaqwa Katakanlah:"Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab:"Kepunyaan Allah". Katakanlah:"(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?" (QS. Al-Mukminun (23) :84-89)
Pengingkaran Tauhid Rububiyah Hanyalah Sekedar di Lisan Dan Karena Kesombongan Semata: Seperti pengingkaran Fir’aun terhadap adanya Allah, dan terhadap rububiyah Allah sebagaimana yang firman Allah: Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui ilah bagimu selain aku”. (Al-Qashash:38). Dan firmanNya: (Seraya) berkata, "Akulah Rabbmu yang paling tinggi." (An-Nazi’at:24)
Semua itu hanyalah karena kezhaliman dan kesombongannya saja, karena sebenarnya hatinya mengakui bahwa dia adalah seorang hamba, seperti dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya, Musa menjawab:
وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ فَاسْأَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ إِذْ جَاءَهُمْ فَقَالَ لَهُ فِرْعَوْنُ إِنِّي َلأَظُنُّكَ يَا مُوسَى مَسْحُورًا (101)قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُ َلآءِ إِلاَّ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي َلأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا(102)
“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir'aun berkata kepadanya: "Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir." Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir'aun, seorang yang akan binasa." (Al-Isra’ (17):101-102)
Dan firman-Nya:“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya.Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.”(QS. An-Naml (27):14)
b. Penyimpangan Terhadap Tauhid Rububiyah:
Di antara bentuk-bentuk penyimpangan pada tauhid rububiyah, antara lain:
Keyakinan orang-orang Majusi, yang menyatakan ada dua pencipta terhadap alam ini, yaitu tuhan gelap dan cahaya. Walaupun mereka tidak menganggap kedua tuhan itu sama derajatnya, karena mereka menyatakan bahwa cahaya menciptakan kebaikan, sedangkan gelap menciptakan keburukan, sehingga menurut mereka cahaya lebih baik daripada gelap.
Keyakinan trinitas pada orang-orang Nashara, atau trimurti pada orang-orang Hindu,Mengingkari rububiyah Allah, seperti orang-orang Atheis dan semacamnya.
Menisbatkan hak-hak rububiyah atau sebagiannya kepada selain Allah. Seperti menisbatkan kepada waktu/masa, alam, malaikat, nabi, jin, makhluk halus, roh, wali, imam, syeikh, guru, dan lainnya. Allah Ta’ala berfirman; “Dan mereka berkata:"Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al-Jatsiyah (45) : 24)
Tak kenal maka tak sayang, demikian bunyi pepatah. Banyak orang mengaku mengenal Allah, tapi mereka tidak cinta kepada Allah. Buktinya, mereka banyak melanggar perintah dan larangan Allah. Sebabnya, ternyata mereka tidak mengenal Allah dengan sebenarnya.
Sekilas, membahas persoalan bagaimana mengenal Allah bukan sesuatu yang asing. Bahkan mungkin ada yang mengatakan untuk apa hal yang demikian itu dibahas? Bukankah kita semua telah mengetahui dan mengenal pencipta kita? Bukankah kita telah mengakui itu semua?
Kalau mengenal Allah sebatas di masjid, di majelis dzikir, atau di majelis ilmu atau mengenal-Nya ketika tersandung batu, ketika mendengar kematian, atau ketika mendapatkan musibah dan mendapatkan kesenangan, barangkali akan terlontar pertanyaan demikian.
Yang dimaksud dalam pembahasan ini yaitu mengenal Allah yang akan membuahkan rasa takut kepada-Nya, tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan hanya kepada-Nya. Sehingga kita bisa mewujudkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya. Yang akan menenteramkan hati ketika orang-orang mengalami gundah-gulana dalam hidup, mendapatkan rasa aman ketika orang-orang dirundung rasa takut dan akan berani menghadapi segala macam problema hidup.
Faktanya, banyak yang mengaku mengenal Allah tetapi mereka selalu bermaksiat kepada-Nya siang dan malam. Lalu apa manfaat kita mengenal Allah kalau keadaannya demikian? Dan apa artinya kita mengenal Allah sementara kita melanggar perintah dan larangan-Nya?
Maka dari itu mari kita menyimak pembahasan tentang masalah ini, agar kita mengerti hakikat mengenal Allah dan bisa memetik buahnya dalam wujud amal.
Mengenal Allah ada empat cara yaitu mengenal wujud Allah, mengenal Rububiyah Allah, mengenal Uluhiyah Allah, dan mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah.
Keempat cara ini telah disebutkan Allah di dalam Al Qur’an dan di dalam As Sunnah baik global maupun terperinci.
Ibnul Qoyyim dalam kitab Al Fawaid hal 29, mengatakan: “Allah mengajak hamba-Nya untuk mengenal diri-Nya di dalam Al Qur’an dengan dua cara yaitu pertama, melihat segala perbuatan Allah dan yang kedua, melihat dan merenungi serta menggali tanda-tanda kebesaran Allah seperti dalam firman-Nya:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ َلأَ يَاتٍ ِّلأُ وْلِي اْلأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal.” (QS. Ali Imran: 190)
Juga dalam firman-Nya yang lain:“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang, serta bahtera yang berjalan di lautan yang bermanfaat bagi manusia.” (QS. Al Baqarah: 164)
c. Mengenal Wujud Allah.
Yaitu beriman bahwa Allah itu ada. Dan adanya Allah telah diakui oleh fitrah, akal, panca indera manusia, dan ditetapkan pula oleh syari’at.
Ketika seseorang melihat makhluk ciptaan Allah yang berbeda-beda bentuk, warna, jenis dan sebagainya, akal akan menyimpulkan adanya semuanya itu tentu ada yang mengadakannya dan tidak mungkin ada dengan sendirinya. Dan panca indera kita mengakui adanya Allah di mana kita melihat ada orang yang berdoa, menyeru Allah dan meminta sesuatu, lalu Allah mengabulkannya. Adapun tentang pengakuan fitrah telah disebutkan oleh Allah Ta’ala di dalam Al Qur’an:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ(172)أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ(173)
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu menurunkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman ): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu’ Mereka menjawab: ‘(Betul Engkau Tuhan kami) kami mempersaksikannya (Kami lakukan yang demikian itu) agar kalian pada hari kiamat tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami bani Adam adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan-Mu) atau agar kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu sedangkan kami ini adalah anak-anak keturunan yang datang setelah mereka.’.” (QS. Al A’raf: 172-173)
Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa fitrah seseorang mengakui adanya Allah dan juga menunjukkan, bahwa manusia dengan fitrahnya mengenal Rabbnya. Adapun bukti syari’at, kita menyakini bahwa syari’at Allah yang dibawa para Rasul yang mengandung maslahat bagi seluruh makhluk, menunjukkan bahwa syari’at itu datang dari sisi Dzat yang Maha Bijaksana. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin hal 41-45)
d. Mengenal Rububiyah Allah
Rububiyah Allah adalah mengesakan Allah dalam tiga perkara yaitu penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin hal 14)
Maknanya, menyakini bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki, mendatangkan segala manfaat dan menolak segala mudharat. Dzat yang mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik hukum dan selainnya dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah.
Dari sini, seorang mukmin harus meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang menandingi Allah dalam hal ini. Allah Ta’ala mengatakan:
قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ(1)اللهُ الصَّمَدُ(2)لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ(3)وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ(4)
“’Katakanlah!’ Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya sgala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al Ikhlash: 1-4)
Maka ketika seseorang meyakini bahwa selain Allah ada yang memiliki kemampuan untuk melakukan seperti di atas, berarti orang tersebut telah mendzalimi Allah dan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya.
Dalam masalah rububiyah Allah sebagian orang kafir jahiliyah tidak mengingkarinya sedikitpun dan mereka meyakini bahwa yang mampu melakukan demikian hanyalah Allah semata. Mereka tidak menyakini bahwa apa yang selama ini mereka sembah dan agungkan mampu melakukan hal yang demikian itu. Lalu apa tujuan mereka menyembah Tuhan yang banyak itu? Apakah mereka tidak mengetahui jikalau ‘tuhan-tuhan’ mereka itu tidak bisa berbuat apa-apa? Dan apa yang mereka inginkan dari sesembahan itu?
Allah telah menceritakan di dalam Al Qur’an bahwa mereka memiliki dua tujuan.
Pertama, mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya sebagaimana firman Allah: “Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai penolong (mereka mengatakan): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami di sisi Allah dengan sedekat-dekatnya’.” (Az Zumar: 3 )
Kedua, agar mereka memberikan syafa’at (pembelaan ) di sisi Allah. Allah berfirman: “Dan mereka menyembah selain Allah dari apa-apa yang tidak bisa memberikan mudharat dan manfaat bagi mereka dan mereka berkata: ‘Mereka (sesembahan itu) adalah yang memberi syafa’at kami di sisi Allah’.” (QS. Yunus: 18)(Lihat kitab Kasyfusy Syubuhat karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab)
Keyakinan sebagian orang kafir terhadap tauhid rububiyah Allah telah dijelaskan Allah dalam beberapa firman-Nya:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَ نَّى يُؤْفَكُونَ
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan mereka? Mereka akan menjawab Allah.” (QS. Az Zukhruf: 87)
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَ نَّى يُؤْفَكُونَ
“Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan yang menundukkan matahari dan bulan? Mereka akan mengatakan Allah. maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (QS. Al Ankabut: 61)
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ اْلأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ
“Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan bumi setelah matinya? Mereka akan menjawab Allah. Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).” (QS. Al Ankabut: 63)
Demikianlah Allah menjelaskan tentang keyakinan mereka terhadap tauhid Rububiyah Allah. Keyakinan mereka yang demikian itu tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam dan menyebabkan halalnya darah dan harta mereka sehingga Rasulullah mengumumkan peperangan melawan mereka.
Makanya, jika kita melihat kenyataan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin, kita sadari betapa besar kerusakan akidah yang melanda saudara-saudara kita. Banyak yang masih menyakini bahwa selain Allah, ada yang mampu menolak mudharat dan mendatangkan mamfa’at, meluluskan dalam ujian, memberikan keberhasilan dalam usaha, dan menyembuhkan penyakit. Sehingga, mereka harus berbondong-bondong meminta-minta di kuburan orang-orang shalih, atau kuburan para wali, atau di tempat-tempat keramat dengan alasan untuk menyerap sebagaian karamah mereka.
Mereka harus pula mendatangi para dukun, tukang ramal, dan tukang tenung atau dengan istilah sekarang paranormal. Semua perbuatan dan keyakinan ini, merupakan keyakinan yang rusak dan bentuk kesyirikan kepada Allah.
Ringkasnya, tidak ada yang bisa memberi rizki, menyembuhkan segala macam penyakit, menolak segala macam marabahaya, memberikan segala macam manfaat, membahagiakan, menyengsarakan, menjadikan seseorang miskin dan kaya, yang menghidupkan, yang mematikan, yang meluluskan seseorang dari segala macam ujian, yang menaikkan dan menurunkan pangkat dan jabatan seseorang, kecuali Allah. Semuanya ini menuntut kita agar hanya meminta kepada Allah semata dan tidak kepada selain-Nya.
2. Tauhid Uluhiyah
Uluhiyah Allah adalah mengesakan segala bentuk peribadatan bagi Allah, seperti berdo’a, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain Allah termasuk perbuatan dzalim yang besar di sisi-Nya yang sering diistilahkan dengan syirik kepada Allah.
Allah berfirman di dalam Al Qur’an: “Hanya kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allah kami meminta.” (QS. Al Fatihah: 5)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah membimbing Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dengan sabda beliau: “Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada Allah dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Allah Ta’ala berfirman: “Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (QS. An Nisa: 36)
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai sekalian manusia sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 21)
Dengan ayat-ayat dan hadits di atas, Allah dan Rasul-Nya telah jelas mengingatkan tentang tidak bolehnya seseorang untuk memberikan peribadatan sedikitpun kepada selain Allah karena semuanya itu hanyalah milik Allah semata.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah berfirman kepada ahli neraka yang paling ringan adzabnya. ‘Kalau seandainya kamu memiliki dunia dan apa yang ada di dalamnya dan sepertinya lagi, apakah kamu akan menebus dirimu? Dia menjawab ya. Allah berfirman: ‘Sungguh Aku telah menginginkan darimu lebih rendah dari ini dan ketika kamu berada di tulang rusuknya Adam tetapi kamu enggan kecuali terus menyekutukan-Ku.” ( HR. Muslim dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu )
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah berfirman dalam hadits qudsi: “Saya tidak butuh kepada sekutu-sekutu, maka barang siapa yang melakukan satu amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku maka Aku akan membiarkannya dan sekutunya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu)
Contoh konkrit penyimpangan uluhiyah Allah di antaranya ketika seseorang mengalami musibah di mana ia berharap bisa terlepas dari musibah tersebut. Lalu orang tersebut datang ke makam seorang wali, atau kepada seorang dukun, atau ke tempat keramat atau ke tempat lainnya. Ia meminta di tempat itu agar penghuni tempat tersebut atau sang dukun, bisa melepaskannya dari musibah yang menimpanya. Ia begitu berharap dan takut jika tidak terpenuhi keinginannya. Ia pun mempersembahkan sesembelihan bahkan bernadzar, berjanji akan beri’tikaf di tempat tersebut jika terlepas dari musibah seperti keluar dari lilitan hutang.
Ibnul Qoyyim mengatakan: “Kesyirikan adalah penghancur tauhid rububiyah dan pelecehan terhadap tauhid uluhiyyah, dan berburuk sangka terhadap Allah.”
3. Asma’ wash-shifat
Maksudnya, kita beriman bahwa Allah memiliki nama-nama yang Dia telah menamakan diri-Nya dan yang telah dinamakan oleh Rasul-Nya. Dan beriman bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang tinggi yang telah Dia sifati diri-Nya dan yang telah disifati oleh Rasul-Nya. Allah Ta’ala memiliki nama-nama yang mulia dan sifat yang tinggi berdasarkan firman Allah: “Dan Allah memiliki nama-nama yang baik.” (Qs. Al A’raf: 186) “Dan Allah memiliki permisalan yang tinggi.” (QS. An Nahl: 60)
Dalam hal ini, kita harus beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya dan tidak menyelewengkannya sedikitpun. Imam Syafi’i meletakkan kaidah dasar ketika berbicara tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagai berikut: “Aku beriman kepada Allah dan apa-apa yang datang dari Allah dan sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah. Aku beriman kepada Rasulullah dan apa-apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Rasulullah” (Lihat Kitab Syarah Lum’atul I’tiqad Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin hal 36)
Ketika berbicara tentang sifat-sifat dan nama-nama Allah yang menyimpang dari yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka kita telah berbicara tentang Allah tampa dasar ilmu. Tentu yang demikian itu diharamkan dan dibenci dalam agama. Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
“Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tampa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah (keterangan) untuk itu dan (mengharamkan) kalian berbicara tentang Allah tanpa dasar ilmu.” (QS. Al A’raf: 33)
Allah Ta’ala juga berfirman:
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً
“Dan janganlah kamu mengatakan apa yang kamu tidak memiliki ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan diminta pertanggungan jawaban.” (QS. Al Isra: 36)
Bentuk penyesatan yang muncul silih berganti dengan beragam jenis dan ‘kemasan’ mengakibatkan mayoritas kaum muslimin keluar dari jalur kebenaran. Kehancuran dan kerusakan moral baik lahiriyah maupun batiniyah muncul dari semua itu. Kita lihat, sekarang tampilan kesesatan bisa berwarna putih, namun sesaat kemudian bisa berubah warna. Sehingga sulit bagi kita untuk mengatur langkah dan strategi menghadapinya. Para tokoh kekufuran dan kesyirikan bergentayangan, menjadi dalang yang menyerukan “dakwahnya” ke sana-sini.
Dengan penuh rasa aman dan merdeka mereka menyeru kaum muslimin kepada jalan pimpinan mereka yang satu yaitu iblis. Inilah yang telah dikhawatirkan oleh Rasululllah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabda beliau: “Sesungguhnya orang yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah munculnya pemimpin-pemimpin yang menyesatkan.” (HR Abu Dawud no. 4252, Ibnu Majah no. 4000, Imam Ahmad 5/278-284 dan selain mereka dari shahabat Tsauban.Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam kitabnya Shahih Sunan Abu Dawud no. 3577, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3192, Silsilah Ahadits Ash-Shahihah no. 1685, 4/252)
Inilah kekhawatiran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap sesuatu yang akan menimpa umatnya di akhir jaman. Dan kekhawatiran itu telah muncul di masa sekarang. Bagaimanapun ingkarnya seseorang kepada Allah dan kepada Rasul-Nya lalu menyerukan pemikiran yang dipeganginya, maka akan muncul dukungan yang mengalir kepadanya. Bahkan dukungan itu kadang terlihat sangat besar (karena dipublikasikan lewat berbagai media) padahal orang tersebut nyata-nyata menentang nash-nash Al-Quran dan As-Sunnah yang telah jelas dan pasti.
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam kitab Silsilah Ahadits Ash-Shahihah (4/252) memberikan contoh dalam hal ini: “Ketahuilah bahwa termasuk dari para dajjal (pendusta) yang mengaku masih ada kenabian (setelah Rasulullah) adalah Mirza Gulam Ahmad Al-Qadiyani Al-Hindi (pendiri kelompok Ahmadiyyah -red). Di saat India di bawah penjajahan Inggris, ia mengaku sebagai Imam Mahdi yang ditunggu di India, mengaku sebagai Nabi ‘Isa dan terakhir mengaku sebagai Nabi. Ironisnya, dakwah penuh kedustaan itu diikuti pula oleh sejumlah kaum muslimin yang tidak memiliki ilmu tentang Kitabullah dan As-Sunnah. Ia pun memiliki akidah sesat lain, di antaranya menyelisihi ijma’ umat dengan penuh keyakinan, seperti mengingkari dibangkitkannya jasad, nikmat dan adzab di dalam kubur hanya ruh saja bukan jasad, adzab yang menimpa orang kafir akan berakhir, mengingkari wujud jin dan meyakini bahwa jin-jin yang dimaksud di dalam Al-Qur’an adalah sekelompok dari manusia...”
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i berkata: “Kita sekarang berada pada masa di mana kebenaran telah terbalik sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Para ahli ilmu di permulaan langkah mereka diangggap sebagai orang yang akan membela dan menjaga Islam karena dikenal melalui (sikap) mereka. Kita tidak menduga setelah itu kalau mereka telah sampai ke batas membela kekufuran dan menjadikan kekufuran itu sebagai satu kewajiban. Mereka menjadikan bid’ah sebagai sunnah, kesesatan sebagai petunjuk dan penyelewengan sebagai bimbingan (yang semua itu) bukan sesuatu yang asing bagi dirimu.” (Tuhfatul Mujib hal. 297)
Syiar-syiar jahiliyah dihidupkan oleh imam-imam penyesat itu dan jangan heran jika kaum muslimin menyambut hangat seruan tersebut. Karena ajaran jahiliyah itu sangat sesuai dengan hawa nafsu setiap insan yang selalu memerintahkan untuk berbuat jahat.
Kini kita bisa dengan mudah menemukan lambang kesyirikan dan kekufuran, yang semua itu dianggap sebagai lambang kemajuan dan keberhasilan hidup sehingga tidak terlepas keberadaannya di negeri muslim. Maka hampir tidak ada satupun negeri muslim melainkan bertebaran pohon-pohon yang dikeramatkan, kuburan-kuburan yang diagungkan, tempat-tempat angker yang mengandung berpuluh khurafat dan takhayul, dan sebagainya. Bahkan terlihat pula di rumah-rumah sebagian kaum muslimin, tidak luput dari penampilan kekufuran dan kesyirikan. Jimat ataupun rajah-rajah dengan segala mantranya memenuhi bagian-bagian rumah yang vital. Tidak terlepas pula toko-toko, mobil-mobil dan sebagainya.
Para tokoh kesyirikan itu telah mempersiapkan generasi pengganti yang akan meniti jejak mereka dan meneruskan perjuangan mereka yang telah menyebar dan berkembang. Dengan adanya sambutan yang hangat dan dukungan media masa yang modern menjadikan kekuatan tokoh itu bertambah.
C. SEBAB-SEBAB PENYELEWENGAN AKIDAH
Problem penyelewengan akidah di masa kini demikian besar dan kerusakan yang ditimbulkan demikian tinggi. Negara yang maju sekalipun bisa mengalami puncak kehancuran karena tidak ditopang oleh akidah yang benar. Asy-Syaikh Shalih Fauzan mengatakan: “Kekuatan akidah tidak boleh terlepas dari kekuatan materi. Jika kekuatan akidah terlepas darinya dengan berpegang dengan akidah yang menyeleweng lagi batil maka kekuatan materi itu sebagai jembatan penghancur dan perusak. Sebagaimana kita saksikan sekarang ini kejadian yang menimpa di negara-negara kafir di mana mereka memiliki kekuatan materi namun tidak memiliki kekuatan akidah.” (Aqidah Tauhid hal. 14)
Di antara penyebab penyelewengan dan kerusakan akidah adalah:
1. Kejahilan Tentang Akidah yang Benar
Hal ini disebabkan karena berpaling dari mempelajari dan mengajarkan akidah yang benar. Atau kurang memberikan perhatian terhadapnya sehingga muncul generasi yang tidak mengetahui akidah. Dan hal ini diperparah dengan ketidaktahuan tentang perkara yang menyelisihi akidah yang benar tersebut. Yang terjadi justru sebaliknya, seseorang meyakini yang hak adalah batil dan kebatilan sebagai suatu kebenaran sebagaimana yang telah diucapkan oleh ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu 'anhu: “Sesungguhnya ikatan Islam putus seikat demi seikat apabila terlahir di dalam Islam generasi yang tidak mengetahui (prinsip) hidup jahiliyah.”
2. Fanatisme Terhadap Ajaran Nenek Moyang
Fanatisme Terhadap Ajaran Nenek Moyang.dan berpegang teguh dengannya sekalipun hal itu batil. Serta meninggalkan segala yang bertentangan dengan ajaran tersebut meskipun yang menyelisihinya adalah hak.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُون
“Dan apabila dikatakan kepada mereka ikutilah apa yang telah diturunkan Allah! Mereka menjawab: Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun dan tidak mendapatkan petunjuk.” (Al-Baqarah: 170)
Sekarang ada sangat banyak ritual syirik dengan alasan melestarikan budaya tradisional atau budaya nenek moyang,seperti ritual memandikan keris pada malam satu suro,acara mengarak kerbau yang dikeramatkan hingga kotorannya pun dianggap punya tuah tertentu,ritual bersih desa yang berisi penyembahan pada Dewi Sri dan ada banyak lagi ritual-ritual sesat lainnya yang masih dipertahankan dan dilestasikan masyarakat.
3. Taqlid buta
Taqlid buta dalam mengambil ucapan seseorang dalam permasalahan akidah tanpa mengetahui dalilnya dan tidak mengetahui hakikat akidah tersebut sebagaimana hal ini telah menimpa kelompok-kelompok sesat seperti kelompok Jahmiyah (pengikut Jahm bin Shafwan), Mu’tazilah (pengikut Washil bin Atha’), Asy’ariyah (pengikut Ali bin Ismail Al-Asyari sebelum bertaubat dari jalan ini), Sufiyah, dan selain mereka. Mereka bersikap taklid terhadap imam-imam sebelum mereka, sehingga mereka tersesat dan menyeleweng dari akidah yang benar.
Di Indonesia ada seorang tokoh mantan presiden yang telah dilengserkan tetapi semua perkataannya walau banyak menyelisihi syari’at bahkan penuh kesyirikan masih juga diikuti dan dipatuhi oleh para pendukungnya,dengan menganggapnya sebagai wali (sesungguhnya wali syaithan) yang tidak pernah salah.
4. Melampaui Batas Dalam Mensikapi Para Wali dan Orang-Orang Shalih
Maksudnya adalah mengangkat mereka lebih tinggi dari yang semestinya sehingga diyakini bahwa mereka sanggup melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ada yang bisa melakukannya kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seperti mendatangkan manfaat dan menolak mudharat, menjadikan mereka perantara antara makhluk dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam menunaikan segala hajatnya, dianggap penyebab terkabulnya doa. Pada akhirnya para wali dan orang shalih itu menjadi sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mendekatkan diri pada kuburan-kuburan mereka dengan cara menyembelih, bernadzar, berdoa, meminta terselamatkan dari malapetaka, sebagamana telah terjadi pada diri kaum Nabi Nuh 'alaihissalam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَقَالُواْلاَ تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
“Dan mereka berkata: 'Janganlah kalian sekali-kali meninggalkan (penyembahan) Tuhan-Tuhan kamu, dan jangan pula sekali-kali meninggalkan (penyembahan) kepada Wadd, dan jangan pula kepada Suwa’, Yaghuts, Yau’q, dan Nasr.” (Nuh: 23)
Hal ini telah menimpa mayoritas para penyembah kuburan dan orang-orang yang mengagungkannya di berbagai negara.
Di negara kita Indonesia bahkan ada yang mengadakan tour spiritual ke kuburan para wali songo.Dikuburan para wali mereka mengadakan meditasi bersama,berharap mendapatkan karomah wali,mendapatkan wangsit dari para wali,meminta pertolongan dengan memanggil-manggil arwah para wali.
5. Ditinggalkannya Pengkajian Ayat-Ayat Kauniyah (ayat yang terdapat pada makhluk sebagai tanda kebesaran Allah) dan Ayat-Ayat yang Termaktub Di dalam Al-Qur’an.
Banyak manusia yang hidup bergelimang harta dan berbagai kemajuan lainnya beranggapan hal-hal yang telah dilakukannya ini semata-mata usaha dan kemampuan mereka. Mereka pun terjatuh ke dalam sikap mengkultuskan individu dan mengkaitkan bahwa semua pemberian ini didapati hanya karena kesungguh-sungguhan manusia dalam berusaha dan hasil karyanya sebagaimana ucapan Qarun: “Sesungguhnya aku diberi harta itu hanyalah karena ilmu yang ada padaku.” (Al-Qashash: 78)
Juga sebagaimana yang telah dikutip oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dari ucapan-ucapan mereka:“Ini adalah hakku.” (Fushshilat: 50)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang orang yang sombong: “(Ia berkata): Sesungguhnya aku diberi nikmat itu karena kepandaianku.” (Az-Zumar: 49)
6. Kosongnya Setiap Rumah Dari Arahan dan Bimbingan yang Akan Menyelamatkan Akidah Setiap Insan.
Sungguh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci dan kedua orang tuanya yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dari hadits ini terdapat faidah bahwa kedua orang tua memiliki andil besar dalam perbaikan generasi Islam yang akan datang.Dapat kita lihat generasi muda Islam saat ini kebanyakan mereka mengikuti tren hidup orang barat yang sangat merusak akidah dan akhlak umat Islam.
7. Munculnya Media Massa yang Merusak Akidah Umat Islam.
Munculnya media massa yang tidak memperhatikan sisi agama, bahkan media-media itu dijadikan sebagai alat untuk menjauhkan muslimin dari kebenaran agamanya. Mayoritas bentuk media massa pada masa ini baik yang dilihat, didengar dan dibaca bertujuan sama yaitu sama-sama menghancurkan kaum muslimin. (Lihat kitab Akidah Tauhid hal. 16-17)
Masih banyak sebab yang akan menyelewengkan akidah yang benar dan semoga ini cukup dan mewakili yang lain. Seperti maraknya acara-acara yang penuh kesyirikan yang dijadikan tontonan hingga banyak menyesatkan masyarakat awam.
8. Mengkeramatkan Tempat Akibat Kerusakan Akidah
Kita sering mendengar kata-kata angker di tengah masyarakat. Istilah ini biasanya untuk menyebut suatu tempat khusus seperti kuburan, rimbun pepohonan, dan sebagainya, yang konon menurut cerita, di sana sering terjadi peristiwa-peristiwa aneh dan menakutkan. Kenapa tempat itu menjadi angker dan yang lain tidak?
Kata angker memang identik dengan menakutkan. Sehingga, setiap orang yang melewati tempat itu, dibayangi gambaran akan munculnya sesuatu yang menakutkan dan mengerikan yang dapat membuat bulu kuduk berdiri. Padahal kenyataannya tidak terjadi apapun. Demikianlah kebenaran firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: “Yang demikian itu tidak lain karena setan hendak menakut-nakuti pengikutnya. Lantaran itu janganlah kamu takut kepada mereka akan tetapi takutlah kepada-Ku jika memang kamu itu adalah orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 175)
Gambar 14:
Pohon beringin yang sering dikeramatkan
Semua ini terjadi akibat pembentukan jiwa yang rusak melalui dongeng dan berbagai cerita takhayul, bacaan novel, komik yang penuh kedustaan, film dan tayangan mistik yang menyesatkan. Setelah pengaruh mistik ini tertanam kuat di dalam jiwa seseorang, muncullah sikap takut kepada jin (setan). Akibat lebih jauh, orang tersebut dengan mudahnya mempersembahkan berbagai bentuk sesajen mulai dari yang termurah harganya hingga yang mahal. Lebih lanjut, orang ini bisa jadi akan meminta perlindungan kepada penghuni tempat tersebut bila melewatinya. Karena, ia telah meyakini jika tidak melakukan hal demikian, akan mendatangkan marabahaya, cepat atau lambat.
Pengaruh buruk lainnya yakni menjadikan tempat-tempat yang dianggap keramat itu untuk bertapa mencari wangsit dan berbagai ilmu “kanuragan”.Seperti ada beberapa perguruan ilmu kebathinan yang bermeditasi dikuburan keramat atau tempat-tempat wingit.Mereka bahkan mengilmiahkan prilaku syiriknya dengan mengatakan kami “hanya menyerab energi positif dari kuburan wali atau kami hanya menyerap energi prana dari tempat keramat karena tempat keramat mengandung energi positif yang sangat besar”dan ada banyak lagi ucapan-ucapan sesat untuk melegalkan prilaku syiriknya.
Model kesyirikan yang cukup marak ini, sebenarnya telah terjadi di masa jahiliyah dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menceritakannya di dalam Al-Quran:
وَأَ نَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ اْلإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
“Dan bahwa ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka rasa dosa dan kesalahan.” (Al-Jin: 6)
Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Jin itu berkata: Kita melihat bahwa kita lebih utama dari manusia. Terbukti apabila mereka turun di sebuah lembah atau tempat yang menakutkan atau selainnya, mereka meminta perlindungan kepada kita. Sebagaimana kebiasaan orang-orang jahiliyah di mana mereka berlindung dari ‘penunggu’ tempat tersebut agar terhindar dari perbuatan jahatnya. Bila salah seorang mendatangi tempat musuh-musuhnya, dia meminta perlindungan kepada pembesar negeri tersebut. Maka tatkala para jin melihat manusia melakukan demikian karena ketakutan dari kejahatan mereka, jin-jin tersebut menambah rasa takut pada diri-diri mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/449)
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Barangsiapa menyembelih untuk setan dan berdoa kepadanya, meminta perlindungan darinya, mendekatkan diri kepadanya dan segala yang disukai (setan tersebut) maka sungguh dia telah menyembahnya, sekalipun dia tidak mengistilahkannya ibadah, cukup dengan istilah istikhdam (meminta bantuan).” (Bada’iul Fawaid, 2/215)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata: “Orang-orang jahiliyah bila turun di sebuah tempat bersama keluarga mereka dia berkata: ‘Aku berlindung kepada pembesar penghuni lembah ini dari kalangan jin agar kami tidak terkena kejahatan baik pada diriku, hartaku, anakku atau binatang ternakku.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/449)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Al-Imam Ahmad dan selain beliau menjelaskan bahwa tidak boleh meminta perlindungan kepada selain Allah.” (Majmu’ Fatawa, 1/336)
Demikianlah bentuk perbuatan syirik di masa jahiliyah, yaitu mengarahkan peribadatan kepada jin-jin. Sikap ini sekarang menjadi keyakinan yang dipelihara dan ditumbuh kembangkan oleh orang-orang Islam. Ini merupakan sinyalemen kebenaran sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:“Tidak akan terjadi hari kiamat sampai sekelompok dari umatku mengikuti kaum musyrikin dan sampai sekelompok dari umatku menyembah berhala.” (HR. Abu Dawud)
Bisa kita lihat saat ini ada diantara umat islam begitu mengkultuskan paranormal hingga membawa fotonya kemana-mana.mereka beranggapan dengan membawa fotonya mereka akan selamat dari segala mara bahaya (seperti mengkultuskan Saibaba yang diangggap sebagai seorang wakil tuhan di dunia hingga fotonya begitu dikeramatkan yang membuat banyak orang tersesat dengan bermeditasi didepan foto Saibababa juga seperti aliran Tri Tunggal pimpinan Sapto Raharjo sebagai satguru, yang mengarahkan pengikutnya agar selalu membawa foto satguru. Tarekat Naqsyabandiyah pimpinan Prof. Dr. Kadirun Yahya M.Sc yang mengharuskan dalam berdoa atau berdzikir membayangkan wajah (foto) sang Mursyid )
Juga sabda beliau yang diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:“Benar-benar kalian akan mengikuti langkah-langkah orang-orang sebelum kalian” (HR. Al-Bukhari no. 7320 dan Muslim no. 2669)
Bertebarannya tempat-tempat yang dikeramatkan di berbagai negeri Islam menunjukkan betapa jauhnya kaum muslimin dari akidah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan betapa dekatnya mereka kepada akidah iblis. Mengarahkan berbagai bentuk peribadatan kepada tempat-tempat yang dikeramatkan adalah bentuk penghambaan kepada selain Allah, mengaku adanya kekuasaan yang setara dengan kekuasaan Allah. Salah satu dari bentuk pengkeramatan orang-orang jahiliyah adalah pengkeramatan kuburan-kuburan lalu menjadikannya sebagai tempat beribadah. Disebutkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di dalam kitab beliau Masail Jahiliyah masalah yang ke 83 dan 84.
Berdasarkan hadits Abu Sa’id dan Tsauban di atas kita bisa menyimpulkan bahwa tidak ada satupun jalan yang telah dilalui orang-orang jahiliyah melainkan akan dilalui oleh umat ini, walaupun akibatnya akan membahayakan diri mereka. Demikianlah sunnatullah atas umat ini sebagai akibat dicabutnya ilmu dari hati para hamba dan diremehkannya ilmu, terlebih ilmu akidah. Bentuk-bentuk kesyirikan bertebaran di negeri muslimin. Berbagai bentuk kekufuran menggerayangi generasi Islam. Praktek kemaksiatan merajalela di mana-mana dan kesyirikan menjadi perbendaharaan ilmu yang harus dikaji ulang dalam kehidupan untuk menyambung tali hubungan dengan nenek moyang. Yang paling aneh dari semua itu adalah terangkatnya kedudukan sebuah pohon yang tidak berakal menjadi sesuatu yang memiliki daya keramat dan disembah-sembah. Hal ini telah diceritakan oleh Abu Waqid Al-Laitsi radhiallahu 'anhu:
Kami pergi bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ke Hunain dan kami adalah orang yang baru masuk Islam. Orang-orang musyrik memiliki pohon Sidrah, mereka i’tikaf padanya dan menggantungkan pedang-pedang mereka di atas pohon itu, yang disebut pohon Dzaatu Anwat. Pada suatu hari kami melewati sebuah sidrah (pohon bidara) tersebut dan kami berkata: “Wahai Rasulullah, buatkanlah (tentukan) buat kami pohon tempat menggantung pedang-pedang kami sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwat.” Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Allahu Akbar, sesungguhnya ini jalan orang-orang sebelum kalian dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya (ucapan ini) sebagaimana ucapan bani Israil kepada Nabi Musa: ‘Buatkanlah untuk kami satu sesembahan (selain Allah) sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan!’ Musa menjawab: ‘Sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil.’ (Al-A’raf: 138). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Kalian benar-benar akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy-Syaikh rahimahullah mengatakan: “Di dalam hadits ini ada beberapa faidah:
1. Setiap orang harus merasa takut dengan perbuatan syirik.
2. Terkadang seseorang menyangka bahwa sebuah perkara akan bisa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, padahal perkara itu menjauhkan dirinya dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mendekatkannya kepada murka Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak ada yang mengetahui hal ini melainkan orang-orang yang telah menyelami apa-apa yang terjadi di masa kini, khususnya apa yang dilakukan oleh para ulama dan ahli ibadah terhadap perbuatan para pengagung kuburan. Perilaku ini disebabkan adanya sifat berlebihan mereka (penyembah kubur, red) dalam menyikapi para penghuni kubur dengan memalingkan ibadah kepada mereka. Mereka menyangka berada di atas kebenaran padahal mereka di atas dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah.” (Fathul Majid hal. 165)
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Betapa cepatnya orang-orang musyrik itu menjadikan sesembahan selain Allah dan bagaimanapun bentuk sesembahan tersebut. Mereka berkata: ‘Sesungguhnya batu, pohon, mata air bisa menerima setiap nadzar dan segala bentuk penyembahan lainnya.’ Padahal nadzar itu adalah ibadah dan qurbah (bentuk pendekatan diri) di mana setiap pelakunya bisa mendekatkan diri kepada-Nya.” (Ighatsatul Lahafan, 1/230)
Dari hadits-hadits dan ucapan ulama di atas jelas bahwa segala bentuk pengagungan kepada tempat atau pepohonan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin sekarang ini termasuk daripada sunnah jahiliyah sekalipun nama dan lambangnya berbeda. Kekufuran itu adalah satu ajaran.
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata: “Perbedaan nama tidak merubah hakikat.” (Fathul Majid: 165) Ucapan yang semakna telah dilontarkan oleh Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullah di dalam kitabnya Thathhirul I’tiqad (hal. 20).
Wallahu a’lam.
Minggu, 22 Februari 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar