A. MEDITASI DAN PROSESI MENDAPATKAN KESAKTIAN
Meditasi berasal dari bahasa Inggris “meditation” yang kemudian diucapkan dalam bahasa Indonesia menjadi meditasi.Dalam bahasa sansekerta dikenal dengan istilah samadhi yang kemudian oleh bangsa kita terutama yang berkultur jawa disebut dengan “semadi”atau “tapa-brata”
Pengertian meditasi secara umum adalah sebagai suatu daya pemusatan bathin kearah percaya kepada Tuhan untuk tujuan kesempurnaan hidup manusia baik rohaniah maupun jasmaniah.
Menurut Sri Mulyono Hartono,pendiri atau pimpinan dan pelatih “Prana Meditasi Group”meditasi adalah salah satu upaya penjernihan bathin yakni pengendapan pikiran,rasa dan emosi untuk menciptakan ketenangan bathin.
Cara latihan meditasi pengendapan pikiran,rasa dan emosi untuk menciptakan ketenangan bathin menurut para meditator adalah sebagai berikut:
1. Duduk bersila secara santai dan tenang,seluruh otot harus dikendorkan.
2. Menutup mata lalu bernapas secara wajar dan kosongkan pikiran.
3. Lupakan semua masalah yang ada,biarkan bayangan-bayangan atau fikiran-fikiran yang datang dalam hati sampai merasa keheningan yang total.
Sedangkan jika ingin bermeditasi untuk mendapatkan energi atau kekuatan ghoib ditambah dengan niat menarik energi Ilahi,dengan pemusatan fikiran pada cakra-cakra tubuh,dengan mengucapkan wirid atau mantra,dengan pengolahan nafas dan lain sebagainya.
Meditasi dapat dilakukan dimana saja asal keadaan daerah atau alamnya baik dan tenang secara kesehatan,namun diutamakan dalam meditasi adalah pada tempat-tempat yang diyakini memiliki sumber energi prana yang banyak atau tempat-tempat keramat seperti tempat ibadah,kuburan orang sakti,wilayah angker dan tempat-tempat lainnya yang diyakini memiliki keutamaan dan kekuatan ghoib.
Gambar 9 :
Meditasi yang dilakukan di daerah yang diyakini mempunyai vibrasi energi tinggi
Sebelum saya menjelaskan mengenai hakikat meditasi yang sebenarnya,saya akan memaparkan sebuah contoh kejadian nyata tantang sebuah Lembaga Seni Meditasi dan Pernapasan Tenaga Dalam (LSMPTD) BN (saya hanya menyebutkan inisial) di Yogyakarta yang melakukan meditasi untuk mendapatkan energi dan kemampuan ghoib.
Sekitar 85 orang peserta Muhibah Spiritual Lembaga Seni Meditasi dan Pernapasan Tenaga Dalam (LSMPTD) BN Yogyakarta melakukan meditasi di kompleks Makam Sunan Kalijaga. Malam itu semua konsentrasi, tanpa suara, hanya desah nafas perlahan yang terdengar. Meditasi ini ternyata tidak saja dilakukan di makam Sunan Kalijaga, tetapi juga di tempat makam orang suci yang lain. Mengapa meditasi tidak dilakukan di masjid atau pegunungan yang udaranya bersih, malah justru dilakukan di kompleks makam?
Tujuan meditasi yang dilakukan di kompleks makam para wali dalam Muhibah Spiritual Akbar ke 5 ini, menurut Ketua Panitia D S A.Md, adalah untuk menarik energi suci yang ada di sekitar makam para wali. Di masjid memang bisa dilakukan, hanya B N sengaja mengadakan kegiatan ini di tempat - tempat yang mengandung energi besar. Kita mengunjungi makam dan tempat - tempat yang dianggap keramat lainnya, jelas D S, bukan untuk menyembah insan yang dimakamkan. Bukan untuk memuja jin, syetan atau penunggu ghaib (astral) yang ada di tempat keramat dan suci tersebut. Karena kita tidak ingin menjerumuskan diri dalam kemusrikan, tambahnya. Tetapi semata - mata kita berkunjung ke makam adalah karena Allah. Tujuan kita ke tempat - tempat tersebut tiada lain hanya untuk menyerap energi suci dari Allah, agar batin kita bertambah bersih, suci nan kuat atas seijin-Nya."Berkunjung atau ziarah ke makam wali, agar kita dapat sedikit meniru kesucian wali tersebut. Berupaya menyerap karomah yang telah diberikan Allah kepada mereka serta menghayati hakekat ilmu Allah," jelasnya. Menurut D S lagi, adalah keliru bila ada yang beranggapan bahwa mengunjungi makam wali atau tempat keramat merupakan bid'ah atau musyrik.
Bagi D S yang penting adalah niat kita. Maka terlalu gegabah jika orang menuduh mereka yang berkunjung ke makam termasuk musyrik, kafir dan sebagainya. Allah lebih tahu suara hati hambanya dan merupakan hak prerogatif Allah untuk memasukkan seseorang ke dalam golongan ahli surga atau neraka. Biarlah Allah yang mengkalkulasi langkah dan napas kita sebab langkah dan napas kita sesungguhnya bertali cahaya dengan napas Allah. Sesungguhnya Allah ada dalam alam urat leher kita. Saat kita ingat Allah, dia pasti berkenan memangku kita. Saat kita menjauh dari Allah maka Dia pasti terus mengejar kita untuk menjulurkan tali hidayahnya, kata D S.
Selain itu Lembaga Seni Meditasi dan Pernapasan Tenaga Dalam (LSMPTD) B N di Yogyakarta dalam menyambut Pengajian Sambut Ramadhan dan Muhibah Spiritual Akbar mengunjungi makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, makam Sunan Kalijaga di desa Kadilangu Demak, Sunan Kudus dan Sunan Muria di Kudus, Goa Maharani dan Sunan Drajad di Lamongan, Makam Syech Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri di Gresik serta Sunan Ampel di Surabaya. Dari sekian tempat yang dikunjungi, setidaknya ada dua tempat yang mendapat perhatian yaitu makam Sunan Kalijaga dan Sunan Drajad. Makam Sunan Kalijaga oleh rombongan digunakan sebagai tempat melatih meditasi. Sedang di makam Sunan Drajad digunakan untuk latihan menembus alam ghaib. Dipilihnya lokasi tersebut bukannya tanpa alasan. Latihan meditasi di makam Sunan Kalijaga, karena di tempat tersebut memiliki energi paling tinggi. Hal ini karena memang Sunan Kalijaga adalah wali yang memiliki ilmu paling tinggi.
Dengan meditasi menarik energi di tempat ini, maka diharapkan peserta akan menyerap energi lebih banyak. Selain itu karena energinya tinggi, peserta dapat dibantu oleh energi tersebut jika ada gangguan energi lain yang negatif.
Sedangkan di makam Sunan Drajad yang dipilih untuk menembus alam ghaib karena energi yang ada di tempat itu dapat membantu meditasi yang akan menembus alam ghaib. Apalagi semasa hidupnya Sunan Drajad terkenal dengan sifatnya yang welas asih sehingga energi yang ada di sekitar makamnya pun akan terpengaruh oleh sifat Sunan. Artinya peserta latihan dapat terbantu energi tersebut. Cara yang diajarkan untuk meditasi dan menembus alam gaib adalah pertama peserta harus berkonsentrasi di cakra jantung, badan rileks tapi serius, posisi duduk bersila. Kemudian mengaktifkan cakra mahkota atau ubun - ubun, seluruh cakra pori - pori dan meditasi cahaya gaib. Baru kemudian dibantu dengan pembacaan doa-doa.
Dari kejadian diatas dapat kita ambil rangkuman mengenai meditasi menurut penuturan para dewan guru B N adalah sebagai berikut :
1. Meditasi dapat dilakukan pada makam keramat seperti kuburan wali atau tokoh-tokoh yang sakti mandraguna..
2. Meditasi pada tempat - tempat keramat untuk menyerap energi suci dari Allah, agar batin kita bertambah bersih, suci nan kuat atas seijin-Nya."
3. Berkunjung atau ziarah ke makam wali dan dilanjutkan dengan meditasi agar kita dapat sedikit meniru kesucian wali tersebut. Berupaya menyerap karamah yang telah diberikan Allah kepada mereka serta menghayati hakekat ilmu Allah,"
4. Latihan meditasi di makam Sunan Kalijaga diperlukan karena di tempat tersebut memiliki energi paling tinggi. Hal ini karena memang Sunan Kalijaga adalah wali yang memiliki ilmu paling tinggi
5. Latihan Meditasi di makam Sunan Drajad terpilih untuk menembus alam ghaib karena energi yang ada di tempat itu dapat membantu meditasi yang akan menembus alam ghaib. Apalagi semasa hidupnya Sunan Drajad terkenal dengan sifatnya yang welas asih sehingga energi yang ada di sekitar makamnya pun akan terpengaruh oleh sifat Sunan. Artinya peserta latihan dapat terbantu energi tersebut.
6. Latihan meditasi untuk menembus alam ghaib adalah pertama peserta harus berkonsentrasi di cakra jantung, badan rileks tapi serius, posisi duduk bersila. Kemudian mengaktifkan cakra mahkota atau ubun - ubun, seluruh cakra pori - pori dan meditasi cahaya gaib. Baru kemudian dibantu dengan pembacaan doa-doa.
Dari kisah nyata mengenai pelaksanaan meditasi yang dilaksanakan para anggota sebuah Lembaga Seni Meditasi dan Pernapasan Tenaga Dalam B.N. (sesungguhnya masih ada banyak lagi perguruan tenaga dalam,padepokan ilmu hikmah yang melakukan prosesi meditasi pada tempat keramat) yang dilakukan pada kuburan wali dan tempat keramat.Marilah kita tinjau dari segi syari’at Islam yang benar sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits Rasulullah mengenai hakikat kesyirikan dalam meditasi dan prosesi meditasi yang dilakukan pada kuburan wali dan tempat-tempat keramat.
Sesungguhnya dalam pelaksanaan meditasi dikatakan merupakan suatu cara dan bentuk dari penenangan diri dengan mengosongkan fikiran adalah salah satu bentuk kebodohan,sebab jika kita sama sekali kosong dari mengingat Allah maka hati kita akan mati.Seperti yang dijelaskan dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari r.a Rasulullah bersabda,”Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berzikir kepada-Nya,bagaikan orang yang hidup dengan orang mati.”
Jika kita ingin menenangkan diri dan mengharapkan jalan keluar dari permasalahan yang kita hadapi kita haruslah mengingat Allah dengan membaca atau mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan dengan berzikir kepada Allah agar hati kita menjadi tenang dan bahagia.Dzikir dapat dilakukan dimana saja pada tempat yang suci dan kapan saja dan tidak mengharuskan pada tempat khusus dengan posisi tubuh atau pengaturan nafas yang khusus. Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman :
وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan Berzikirlah kepada Allah sebanyak mungkin,supaya kamu bahagia”(Al-Anfal:45)
Allah Ta’ala juga telah berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ(57)قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ(58)
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya telah datang kepada kamu nasihat daripada Tuhan kamu serta penawar bagi hati yang di dalam dada, juga petunjuk dan rahmat bagi orang-orang Mu’minin. Katakanlah: Dengan kurnia Allah dan rahmatNya hendaklah dengan itu mereka bergembira. Hal itu adalah lebih baik dari (harta) yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 57-58)
Mengingat Allah bukannya dengan meditasi mengosongkan fikiran atau hanya memusatkan fikiran saja dalam mengingat Allah melainkan haruslah dengan bacaan yang disyari’ahkan.seperti yang dituntunkan Rasulullah seperti membaca Laa ilaaha illallaahu.Rasulullah bersabda :”seutama-utamanya dzikir yaitu Laa ilaaha illallaahu”
Selain itu dalam mengingat Allah agar hati menjadi tentram haruslah orang itu benar-benar beriman yang melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.”(QS.Ar Ra’d(13):28)
Pada pembahasan ini saya akan jelaskan permasalahan adanya keyakinan bahwa bermeditasi pada tempat - tempat keramat untuk menyerap energi suci dari Allah, agar batin kita bertambah bersih, suci nan kuat atas seijin-Nya dan agar kita dapat sedikit meniru kesucian wali tersebut. Berupaya menyerap karamah yang telah diberikan Allah kepada mereka serta menghayati hakekat ilmu Allah,"adalah bentuk kesesatan dan kesyirikan yang nyata.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Janganlah kalian shalat (memohon) kepada kuburan, dan janganlah kalian duduk di atasnya." (HR. Muslim)
Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah saw telah melaknat orang-orang yang kerjanya ziarah kubur, orang yang menjadikan kuburan itu masjid dan meletakkan lampu di atasnya. (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai, Tirmizay, Ibnu Hibban dan lain-lain).
Penjelasan dari hadits diatas adalah Rasulullah melarang kita untuk meminta barokah para penghuni kubur yang telah meninggal hingga seseorang menjadi ketergantungan mewajibkan diri untuk berziarah,juga orang yang menjadikan kuburan itu tempat berdoa,meminta pertolongan atau syafaat dengan ahli kubur lalu mengkeramatinya dengan memberikan hiasan-hiasan pada kubur.
Kita dalam berziarah tidak boleh memohon pertolongan dan bantuan kepada mayit, meskipun dia seorang nabi atau wali, sebab itu termasuk syirik besar karena mereka tidak bisa memberi manfaat seperti beranggapan bahwa para wali dapat diambil karomahnya,energinya disedot,dipinjam ilmu kesaktiannya maupun mudharat seperti jika kita tidak mendoakannya akan mendapat celaka.Allah berfirman,
وَلاَ تَدْعُ مِنْ دُونِ اللهِ مَا لاَ يَنْفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ
"Dan janganlah kamu menyembah apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim." (Yunus: l06)
Rasulullah telah bersabda :“Dulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah kalian. Karena ziarah kubur akan mengingatkan kepada akhirat. Dan hendaklah berziarah itu menambah kebaikan buat kalian. Maka barangsiapa yang ingin berziarah silakan berziarah dan janganlah kalian mengatakan perkataan yang bathil (hujran).” (HR. Muslim, Abu Dawud, Al Baihaqi, An Nasa’i, dan Ahmad)
Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam Al Majmu’ 5/310 : “Hujran artinya ucapan yang bathil. Larangan pertama (untuk ziarah kubur, pent.) karena masih barunya mereka meninggalkan kejahiliyahan dan mungkin karena mereka suka mengatakan ucapan jahiliyah. Maka ketika telah kokoh dasar-dasar Islam, kuat hukum-hukumnya, dan menyebar tanda-tandanya, dibolehkan berziarah bagi mereka.”
“Tidak diragukan lagi bahwa apa yang dilakukan orang-orang awam dan selainnya ketika berziarah dengan berdoa kepada si mayit, beristighatsah kepadanya, dan meminta kepada Allah dengan haknya mayit adalah ucapan bathil (hujran) yang paling besar. Maka wajib bagi ulama untuk menjelaskan hukum tentang itu. Juga menjelaskan cara ziarah yang sesuai dengan syariat kepada mereka dan tujuan ziarah itu.” Demikian yang ditegaskan oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Ahkamul Janaiz halaman 227
Dari penjelasan diatas maka jelaslah kebathilan jika kita berziarah untuk meminta dan berdoa pada mayid walaupun dengan alasan sebagai perantara dia kepada Allah.Apalagi menjadikan ziarah kubur sebagai prosesi ritual mendapatkan kesaktian.Dan merupakan ucapan bathil tanpa ilmu jika dikatakan bahwa “urusan syirik itu kita tidak mengetahuinya dan hanya Allah yang tahu hakikat kesyirikan yang penting niat kita”(sebagaimana yang dikatakan D S sebagai dewan guru B N ).Sebab penjelasan mengenai syirik telah jelas dalam Al-Qur’an dan Hadits dan para ulama telah menjabarkan hakikat kesyirikan dengan bersandarkan pada Al-Qur’an dan Hadits.
Jika dikatakan mereka bahwa berziarah kubur dan bermeditasi sebagai sarana untuk mendapatkan karomah dari Allah adalah salah besar.Sebab karomah tidaklah bisa didapatkan dari suatu hal yang jelas-jelas bathil dan karomah itu sendiri tidak bisa direncanakan untuk mendapatkannya.Walaupun dengan ibadah yang sesuai tuntunan Islam sekalipun kita janganlah mencari karamah tetapi harus istiqomah untuk mendapatkan rido dari Allah.
Berkata Abu Ali Al-Jauzaja’i :“Jadilah engkau orang yang mencari keistiqomahan, jangan menjadi pencari karomah. Sesungguhnya jiwamu bergerak (berusaha) dalam mencari karomah padahal Rob engkau mencari keistiqomahanmu”.
Berkata Syaikh As-Sahrwardi :”Ucapan ini adalah prinsip yang agung dalam perkara ini, karena sesungguhnya banyak mujtahid dan ahli ibadah mendengar salaf yang sholih, telah diberi karomah-karomah dan hal-hal yang luar biasa sehingga jiwa-jiwa mereka (para ahli ibadah itu) senantiasa mencari sesuatu dari hal itu (karomah tersebut), dan mereka ingin diberikan sedikit dari hal itu, dan mungkin diantara mereka ada yang hatinya frustasi dalam keadaan menuduh dirinya bahwa amal ibadahnya tidak sah karena tidak mendapatkan karomah. Kalau mereka mengetahui rahasia hal itu (yaitu Allah tidak menuntut para hambanya untuk memperoleh karomah, tetapi yang Allah inginkan para hambanya beristiqomah –pent) tentu perkara ini (mencari karomah) adalah perkara yang rendah bagi mereka.”
Jadi adalah salah besar jika kita beribadah kepada Allah yang niatnya untuk mendapatkan karamah apalagi jika dalam ibadah kita terdapat unsur syirik dan bid’ah sebagai mana yang telah dikatakan dewan guru B N bahwa “Berkunjung atau ziarah ke makam wali dan dilanjutkan dengan meditasi agar kita dapat sedikit meniru kesucian wali tersebut. Berupaya menyerap karamah yang telah diberikan Allah kepada mereka serta menghayati hakekat ilmu Allah,"
Gambar 10:
Kitab Sihir Lembaga Seni Meditasi dan Pernapasan Tenaga Dalam (LSMPTD) B N di Yogyakarta berisi pelajaran ilmu sihir,santet dan jimat
B. PUASA DAN PEMBACAAN WIRID ATAU MANTRA KESAKTIAN
Dalam Mencari ilmu kesaktian selalu ada prosesi ritual yang mesti dijalani seperti saya contohkan ada suatu perguruan ilmu tenaga dalam mensyaratkan agar bisa mendapatkan ilmu kebal dengan cara shaum (berpuasa) selama 7 hari berturut-turut,persyaratan lain selama berpuasa sebelum melaksanakan puasa tersebut tidak diperkenankan makan sahur,selama 7 atau 41 hari tidak boleh makan selain nasi putih saja dan tanpa lauk pauk apalagi makan makanan yang bernyawa,tiga hari terakhir diharuskan berdiam diri dikamar tanpa lampu dan dilarang berbicara dengan siapapun selain membaca rapalan wirid atau ajian.Pertanyaannya apakah cara mendapatkan ilmu tersebut dengan puasa yang dilaksanakan itu dibolehkan sesuai syari’ah?
Sebelum menjawabnya saya akan menjelaskan bentuk-bentuk puasa yang lazim digunakan para pencari ilmu kesaktian untuk memperoleh ilmu yang diinginkannya.Dalam puasa ritual untuk kesaktian,ada bentuk-bentuk puasa dengan persyaratan yang harus dipenuhi lagi tergantung bentuk dan jenis ilmu kesaktian yang ingin diperolehnya.Macam-macam puasa itu adalah :
Puasa Mutih:yaitu puasa tidak makan dan minum.Pada saat berbuka harus makan makanan yang tidak berasa baik manis,asam,asin atau makan makanan yang bernyawa dan hanya minum air putih saja.
Puasa Pati Geni:yaitu orang melakukan puasa tidak makan,tidak minum,tidak tidur dan tempat puasanya harus ditempat yang benar-benar gelap baik pada siang hari ataupun malam hari tidak boleh ada lampu sedikitpun.
Puasa Ngeluwang:yaitu melakukan puasa tidak makan dan minum dengan masuk kedalam lubang dibawah tanah.
Puasa Ngelowong:yaitu puasa tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur tetapi boleh berada di luar rumah.
Puasa Ngidang: puasa tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur dan hanya diperbolehkan berbuka dengan dengan makan makanan dari dedaunan yang masih muda daunnya.
Puasa Ngepel: puasa tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur dia hanya diperbolehkan memakan nasi sebanyak sekepal selama sehari semalam.
Puasa Ngebleng: puasa tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur juga tidak boleh melihat matahari atau sinar lampu sedikitpun.
Puasa Ngasrep: puasa tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur dan waktu berbuka hanya boleh makan makanan yang dingin dan minuman yang dingin,tanpa bumbu atau rempah rempah.
Jika dilihat macam-macam puasa yang disyaratkan sungguh sangat berat dilaksanakan,tetapi ada saja orang-orang yang melaksanakannya walaupun harus menyiksa diri karenanya.Mereka beranggapan jika ingin hajadnya dikabulkan Allah maka mereka harus bisa menunjukkan kesungguhan dengan melakukan puasa yang berat.
Dari berbagai macam jenis puasa yang telah saya jelaskan diatas marilah kita lihat dan cocokkan dengan hadits Rasulullah mengenai hakikat puasa itu sebenarnya:
1. Kewajiban Berpuasa Terus-menerus dalam Mendapatkan Ilmu Kesaktian.
Dari Mujibah Al Bahiliyah dari ayahnya atau pamannya bahwa dia datang kepada Rasulullah,lalu pulang dan kembali lagi setelah setahun berlalu.Pada riwayat Abu Musa,dia datang lagi setelah satu tahun sedang keadaan fisiknya telah berbeda,maka dia berkata pada Rasululah,”Ya Rasulullah,apakah engkau tidak mengenaliku?”Beliau bersabda,”Siapakah dirimu?”Dia menjawab,”Aku adalah Al Bahili yang datang tahun lalu.”Beliau bersabda,”Apakah sebebnya dirimu telah berubah?Dahulu penampilanmu begitu bagus?”Dia menjawab,”Sejak berpisah dengan engkau aku tidak pernah makan selain pada waktu malam hari (berpuasa setiap hari).” Maka Rasulullah bersabda,”Mengapa dirimu menyiksa diri,lakukanlah puasa pada bulan ramadhan,dan setiap sehari dalam sebulan.”Dia berkata,”Tambahlah!Aku masih kuat menambah.”Beliau bersabda,”Lakukanlah puasa dua hari setiap bulan.”Dia berkata,”Tambahlah aku masih kuat.”Beliau bersabda,”Lakukanlah puasa tiga hari setiap bulan.” Dia berkata,”Tambahlah aku masih kuat.”Beliau bersabda,”Lakukanlah puasa dari bulan haram dan tinggalkanlah (kebiasaanmu),puasalah dari bulan haram dan tinggalkanlah,puasamu dari bulan haram dan tinggalkanlah.”Beliau bersabda sambil mengacungkan tiga jarinya kemudian melepaskannya.(H.R.Abu Daud)
Dari Jarir dari Rasulullah,beliau bersabda,”Puasa tiga hari pada setiap bulan adalah puasa setahun yaitu hari-hari putih tanggal tigabelas,empat belas dan lima belas (hijriah).”
(H.R.Thabrani)
Dari Ummu Salamah ia berkata,”Rasulullah bersabda,:Lakukanlah puasa tiga hati pada setiap bulan yaitu hari senin dan kamis dan kamis berikutnya.”(H.R.Thabrani)
Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah melarang puasa terus-menerus.Para sahabat berkata,”Wahai Rasulullah,engkau sendiri melakukannya.”Beliau bersabda,”Aku berbeda dengan kalian,aku diberi makan dan minum.”(H.R.Abu Daud)
Dari hadits diatas dapat dijelaskan bahwa :
Berpuasa secara berturut-turut bukan pada ayamul bidh dan bukan juga untuk puasa qodho termasuk puasa yang melanggar sunnah Rasulullah.
Orang yang melakukan puasa setiap hari tidak mendapatkan kebaikan akan tetapi bahkan mendapatkan peringatan keras dari Rasulullah dan dinyatakan sebagai orang yang suka menyiksa diri sendiri.
Walaupun para sahabat ingin berpuasa seperti Rasulullah akan tetapi Rasulullah melarang mereka selain satu hari pada setiap bulan atau dua,tiga hari.
Maksudnya dengan puasa tiga hari setiap bulan adalah pada saat dimana ada bulan purnama yaitu pada tanggal 13,14,15 pada setiap bulan hijriah.
Jika tidak pada tiga hari,maka bisa berpuasa pada hari senin dan kamis,yaitu dua senin dan satu kamis atau dua kamis dan satau senin.Jadi dari penjelasan Rasulullah tidak ada puasa yang dilaksanakan secara berturut-turut apalagi sampai 7 hari bahkan 41 hari berturut-turut,itu semua adalah bid’ah.
2. Melarang Sahur untuk Puasa
Dari Anas berkata,:”Rasulullah saw,bersabda,’Bersahurlah kamu sekalian karena pada hidangan sahur terdapat barokah.”(H.R.Muslim)
Dalam hal berpuasa ada yang mensyaratkan dalam berpuasa harus makan hanya sekali yaitu pada saat berbuka saja dan dilarang makan sahur,padahal prilaku bid’ah ini sangat bertantangan dengan hadists Rasulullah yang menunjukkan tidak ada larangan melarang sahur untuk puasa.
3. Larangan Memakan Binatang Bernyawa atau Hanya Makan Nasi Putih.
Allah SWT telah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Hai orang-orang yang beriman,makanlah dari yang baik-baik apa yang Kami rezekikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu beribadah kepadanya.”(Q.S.Al Baqarah:172)
Larangan tidak boleh makan binatang bernyawa dan hanya memakan sedikit nasi putih atau hanya makan makanan tertentu termasuk pelanggaran dalam syari’at,karena mengharamkan apa yang telah Allah halalkan tanpa penyebab yang benar.
4. Membaca Wirid atau Mantra Kesaktian.
Dalam Islam,Al-Qur’an dan Al Hadits adalah sumber utama hukum Islam.dari sanalah kita menyandarkan semua keputusan hukum sesuatu itu wajib,sunnah,haram,makruh dan halal.Nah,bila kita sendiri membaca Al-Qur’an dan kitab-kitab hadits yang terkenal atau bertanya kepada ulama-ulama salaf yang paham betul tentang Al-Qur’an dan hadits-hadits,tidak ada kita temukan yang namanya wirid-wirid tertentu yang bisa menjadikan seseorang menjadi sakti mandraguna punya ilmu-ilmu kebathinan dan kedigdayaan termasuk didalamnya kekebalan,bisa melihat alam ghaib,bisa terbang dan lain sebagainya.Katakanlah misalnya ,:”Bab wirid untuk menjadi kebal,bisa melihat alam ghoib,bisa terbang dan lain sebagainya.”Hal tersebut tidak akan pernah kita temukan.
Dalil-dalil lain yang bisa menguatkan adanya amalan seperti itu juga tidak kita temui dalam siroh (sejarah) Rasulullah dan para sahabatnya rodhiyallahu anhum ajmain.Padahal mereka adalah sebaik-baik umat,masanya adalah sebaik-baik masa.Seandainya hal itu ada,pasti Rasulullah akan mengajarkan pada umatnya.Sebab itu termasuk dalam risalah yang harus beliau sampaikan,tapi memang tidak ada.
Selain itu,sebagai bahan renungan,pada awal-awal datangnya Islam,umat islam sangat tertindas di kota Makkah.Setelah berhijrah ke Madinah dan mulai ada pemerintahan Islam disana,Rasulullah dan para sahabatnya banyak mengalami peperangan.dalam kondisi seperti itu,logikanya akan sangat dibutuhkan ‘ilmu kebal’ ataupun ilmu tenaga dalam untuk menghadapi musuh-musuhnya.tetapi Rasulullah tidak pernah menjampi-jampi atau “mengisi”kekuatan ghoib sebelum berangkat perang agar mereka tidak tertembus bacokan atau tusukan lawan ataupun agar bisa menghajar lawan-lawan mereka dari jarak jauh dengan tenaga dalam.Seandainya itu ada tentu sulit kita mencari para syuhada’ (orang-orang yang mati syahid) dalam peperangan karena semuanya kebal dan sakti-sakti.Lebih dari itu Rasulullah sendiri pernah terluka dalam perang Uhud sampai giginya ada yang tanggal karena lemparan tombak musuh.
Kita juga mengenal masa-masa setelah Rasul dan para sahabat,yakni masa tabi’in dan tabiit tabi’in.Pada saat itu muncul ulama madzhab empat yang sampai saat ini masih diikuti pendapat-pendapatnya oleh umat Islam.Mereka tidak ada yang menulis dalam karya-karyanya hal-hal yang berkaitan dengan ilmu kekebalan dan wirid-wirid yang yang bida melahirkan kekuatan dahsyat.Jika demikian,lalu apakah kita akan mengadakan suatu amalan-amalan dengan keyakinan bisa mendatangkan kekuatan ghoib diluar nalar manusia?Rasulullah telah bersabda,”Barang siapa yang melakukan amalan yang tidak ada pada urusan kita (tidak pernah dilakukan oleh Rasul) maka ia tertolak.”Berarti amalan itu tidak ada nilainya disisi Allah walaupun terkadang amalan itu mengambil dari potongan ayat-ayat Al-Qur’an atau bahasa Arab.Karena Rasulullah tidak pernah mengajarkan wirid-wirid seperti itu.
Apakah kita akan mengadakan kebohongan-kebohongan terhadap Allah dan ayat-ayat-Nya dengan menciptakan amalan-amalan tersebut?Sedangkan Allah berfirman :
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظََّالِمُونَ
”Dan siapakah yang lebih aniaya dari pada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah,atau mendustakan ayat-ayat-Nya?Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.”(QS.Al An’am:21)
Sisi lain yang patut kita pahami,bahwa ilmu kedigdayaan dan kesaktian semacam itu didapat tidak hanya dengan wirid yang berasal dari Al-Qur’an saja.Tetapi juga bisa didapat dengan mantra-mantra yang bukan berasal dari Al-Qur’an atau mantra yang buka dari bahasa Arab,bahkan pengamalnya pun bukan dari orang Islam.
Fenomena ritual seperti ini sudah berurat dan berakar, bahkan menjadi trend dalam masyarakat kita. Dan yang terbelit dan terperangkap dalam lingkaran syetan ini mulai dari orang awam sampai para pejabat, rakyat jelata sampai orang berpangkat. Bahkan kalangan "terpelajar" yang mengaku "intelektual"pun menggandrungi klenik-klenik seperti ini. Mereka menyebutnya dengan "membekali diri dengan ngelmu (ilmu), kekebalan, kesaktian".
Untuk mengelabuhi orang-orang awam terkadang “orang pinter” itu menyandangkan titel mentereng seperti: KH (Kyai Haji), Prof, DR, padahal semua itu mereka lakukan untuk melanggengkan bisnis mereka sebagai agen-agen dan kaki tangan syetan dan jin.
Untuk meraih kesaktian ini, ada yang dengan cara-cara klasik kebatinan, dengan istilah black magic (ilmu hitam) maupun white magic (ilmu putih), dan ada pula dengan cara-cara ritual "dzikir dan amalan-amalan wirid tertentu", dan cara yang terakhir ini lebih banyak mengelabui kaum muslimin, karena seakan-akan caranya Islami dan tidak mengandung kesyirikan.
Dan perlu diketahui bahwa"dzikir dan amalan-amalan wirid tertentu" yang tidak ada syari'atnya dalam Islam, merupakan rumus dan kode etik untuk berhubungan dengan alam supranatural (alam jin), hal seperti ini merupakan perangkap syetan yang menjerumuskan orang pada perbuatan syirik. Untuk mengetahui bahwa perbuatan itu termasuk perbuatan syirik adalah sebagai berikut:
Pertama, bahwa "dzikir dan amalan-amalan wirid tertentu" tersebut bukanlah syari'at Islam, karena tidak memakai standar Al-Qur'an maupun Sunnah Rasulullah, dan ini termasuk dalam kategori bid'ah, yang mana syetan lebih menyukai bid'ah daripada perbuatan maksiat sekalipun.
Kedua, apabila tujuan seseorang melakukan "dzikir dan amalan-amalan wirid tertentu" tersebut untuk memperoleh kesaktian, kekebalan, dan hal-hal yang luar biasa, maka sudah pasti itu bukan karena Allah Subhannahu wa Ta'ala, seperti membaca Al-Fatihah 1000 X, Al-Ikhlas 1000 X dan lain sebagainya dengan tujuan agar kebal terhadap senjata tajam, peluru dan tahan bacok. Atau membaca salah satu shalawat bikinan (baca;bid'ah) dengan iming-iming kesaktian tertentu seperti bisa menghilang dari pandangan orang, bisa makan besi, kaca, beling dan lain sebagainya. Itu semua bukanlah karomah tetapi merupakan hakikat syirik itu sendiri, karena telah memalingkan tujuan suatu ibadah kepada selain Allah Subhannahu wa Ta'ala.
Dengan kata lain,intinya sumber ilmu-ilmu kesaktian itu sendiri bukan pada soal wiridnya,tapi pada bantuan jin yang dipersembahkan kepadanya dengan bacaan wirid-wirid ataupun mantra-mantra itu sebagai bentuk penyesatan yang tentunya akan menurus pada kesyirikan salah satunya akan menimbulkan keyakinan akan kesakralan wirid-wirid itu dibanding bacaan-bacaan doa perlindungan yang telah dituntunkan Rasulullah dan membentuk sikap sombong dalam diri karena punya kekuatan ghoib yang membentuk sikap takabur dan pastinya akan lebih lagi melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah dan sesat yang lebih parah.
Harus kita ketahui bahwa adanya kewajiban membaca wirid secara berlebihan selain menyalahi sunnah Rasulullah bacaan tersebut dapat membuat sibuk dan meninggalkan kewajiban yang lain.membaca wirid yang sangat banyak akan membuat kita melupakan makna yang terkandung dalam kalimat yang dibaca,bahkan dengan membacanya dengan diucapkan secara langsung secara jahr (keras) dengan jangka waktu yang lama akan merubah susunan kalimat bacaan wirid yang kita ketahui bahwa satu huruf saja yang berbeda dalam pengucapan akan merubah arti kalimat dalam bahasa Arab.Contohnya jika kita diwajibkan membaca kalimat Lailahailallah sebanyak limapuluh ribu kali maka tentu kita akan secepatnya menyelesaikannya,hingga melupakan untuk menghayati kalimat tauhid dan sangat besar kemunginan kita salah dalam pengucapan karena saking lama dan cepatnya kita mengucapkannya menjadi La Allah (tidak ada Allah),ana Allah (saya Allah) atau pun berubah menjadi bahasa yang tidak diketahui artinya.Sudah sangat banyak orang yang tersesat karena membaca wirid yang begitu panjang dan pada akhirnya diperdaya syaitan dengan pengalaman mistis dan mendapatkan kemampuan ghoib.
Kami Tim Ruqyah Ustadz Fadlan di Yogyakarta berulangkali menangani mereka yang minta diterapi Ruqyah termasuk yang selalu mengamalkan wirid-wirid tertentu.Diantara mereka banyak yang bertutur,bahwa mereka menggunakan wirid-wirid tertentu,tetapi ketika di-Ruqyah ternyata ada jin didalam dirinya.Karena itu,hampir bisa dipastikan di antara mereka itu tidak bisa menjalankan kewajiban sebagai muslim secara maksimal.Misalnya shalat atau membaca Al-Qur’an,dari malas sampai tidak bisa sama sekali.mestinya wirid-wirid itu kalau memang benar,tentu akan menguatkan sisi ruhiyah.
Sebab Allah telah menyatakan bahwa dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram.pertanyaannya mengapa dengan membaca wirid-wirid namun hati tidak menjadi tentram walaupun didalamnya ada tersebut nama Allah atau ayat-ayat Allah jawabannya adalah karena dia membaca wirid-wirid itu karena mengharapkan pamrih mengharapkan sesuatu yang bersifat ghoib yang tidak ada tuntunannya itu jelas amalan itu tertolak dan tidak ikhlas karena Allah tapi karena ilmu ghoib tersebut.
C. RITUAL MEMAKAI TUMBAL ATAU SESAJEN
Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, tumbal adalah sesuatu yang digunakan untuk menolak penyakit dan sebagainya, atau tolak bala. Sedangkan sesajen merupakan makanan atau bunga-bungaan dan sebagainya yang disajikan kepada orang (makhluk) halus dan semisalnya.
Tumbal, dalam prakteknya lebih khusus atau identik dengan sembelihan dan kurban, sedangkan sesajen biasanya berbentuk makanan yang siap dihidangkan seperti: Jenis-jenis bubur,buah, daging atau ayam yang telah dimasak, dan dilengkapi dengan berbagai macam bunga serta terkadang uang logam.
Sesajen merupakan warisan budaya Hindu dan Budha yang biasa dilakukan untuk memuja para dewa, roh tertentu atau penunggu tempat (pohon, batu, persimpangan) dan lain-lain yang mereka yakini dapat mendatangkan keberuntungan dan menolak kesialan. Seperti dalam upacara menjelang panen yang mereka persembahkan kepada Dewi Sri (dewi padi dan kesuburan) yang mungkin masih dipraktekkan di sebagian daerah Jawa, upacara Nglarung (membuang kesialan) ke laut yang masih banyak dilakukan oleh mereka yang tinggal di pesisir pantai selatan pulau Jawa tepatnya di tepian Samudra Indonesia yang terkenal dengan mitos Nyi Roro Kidul.
Ada pula jenis lain dari sesajen, yaitu menyediakan berbagai jenis tanaman dan biji-bijian seperti padi, tebu, jagung dan lain-lain yang masih utuh dengan tangkainya, kemudian di letakkan pada tiang atau kuda-kuda rumah yang baru dibangun supaya rumah tersebut aman, tentram dan tidak membawa sial.
Adapun tumbal dilakukan dalam bentuk sembelihan, seperti: Menyembelih ayam dengan ciri-ciri khusus untuk kesembuhan penyakit atau untuk menolak kecelakaan,menyembelih kerbau atau sapi, lalu kepalanya di tanam ke dalam tanah yang di atasnya akan dibangun sebuah gedung atau proyek, supaya proyek pemba-ngunan berjalan lancar dan bangunan-nya membawa berkah.
Jadi pada intinya tumbal dan sesajen adalah mempersembahkan sesuatu kepada makhluk halus (roh, jin, lelembut, penunggu, dll) dengan harapan agar yang diberi persembahan tersebut tidak mengganggu atau mencelakakan, lalu berharap dengan-nya keberuntungan dan kesuksesan.
Kegiatan ritual syirik ini bisa kita temui ketika ada pembangunan jembatan, gedung atau rumah. Pada acara peletakan batu pertama, biasanya diadakan pemotongan hewan kemudian darahnya disiramkan atau dioleskan, dan kepala hewan itu ditanam di situ. Tujuannya agar bangunan itu kokoh, kuat, lancar dalam pembangunannya serta tidak meminta korban, terhindar dari bahaya, serta agar makhluk halus yang ada di situ tidak mengganggu. Ada juga yang meletakkan sesajen di atas tiang utama bangunan, agar terhindar dari gangguan makhluk halus yang berada di daerah itu.
Demikian pula, ketika orang merasa takut melewati pohon besar, kuburan, hutan atau lembah yang dianggap angker. Lalu dia mengirimkan berbagai macam bentuk sesajen. Kalau lewat di daerah itu harus minta izin terlebih dahulu, seperti mengucapkan "Mbah permisi saya mau lewat" sambil menundukkan badan pertanda tunduk, atau dengan membunyikan klakson kendaraan sambil menjalankannya dengan pelan-pelan, dan lain sebagainya.
Sesungguhnya di dalam ajaran Islam, gangguan, sakit, kecelakaan, bencana dan sebagainya di sebut dengan istilah madharat. Sedangkan kesuksesan, keberuntungan, kebahagiaan disebut dengan manfa’at. Dan seluruh umat manusia pasti berharap agar terlepas dari mudharat dan memperoleh manfa’at, dengan berbagai upaya dan usaha yang mereka lakukan. Dan Islam mengajarkan, bahwa yang dapat mendatangkan manfa’at dan madharat di alam ini hanyalah Allah saja, sehingga tidak boleh meminta perlindungan, keselamatan, kelancaran rizki kepada selain Allah. Demikian pula berlindung dari bahaya, kesialan, kecelakaan dan lain-lain juga hanya kepada Allah saja. Al-Qur'an telah mensinyalir adanya orang yang mencari manfa’at dan menolak madharat kepada selain Allah, seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang musyrik di masa jahiliyah, sebagaimana difirmankan Allah,
وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لاَّ يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلاَ يَمْلِكُونَ ِلأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا وَلاَ يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلاَ حَيَاةً وَلاَ نُشُورًا
“Kemudian mereka mengambil ilah-ilah selain Dia (untuk disembah), yang tidak menciptakan sesuatu apa pun, bahkan mereka sendiri pun diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfa'atan dan tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” (QS. Al Furqaan:3)
Padahal Allah telah memperingatkan, bahwa berhala atau dewa-dewi (jin) mereka sama sekali tidak memiliki kekuasaan sedikit pun, Allah Ta’ala berfirman :
يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي ِلأَجَلٍ مُّسَمًّى ذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ(13)إِنْ تَدْعُوهُمْ لاَ يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلاَ يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ(14)
“Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walau pun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di Hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui”. (QS. Faathir:13-14)
Tumbal dan sesajen merupakan warisan kepercayaan animisme dan dinamisme, yaitu kepercayaan bahwa benda-benda atau tempat tertentu di alam raya ini memiliki kekuatan ghaib (magic) yang dapat mencelakai seseorang atau menolong serta memenuhi hajatnya. Agar penguasa tempat atau benda tersebut tidak mengganggu, maka harus diberi persembahan, baik tumbal atau sesajen, yang itu jelas merupakan ibadah atau masuk di dalam lingkupnya. Sedangkan di dalam Islam, memalingkan peribadatan, do’a, pengharapan (raja'), takut (khauf), sembelihan, nadzar, isti'anah, istighatsah dan sebagainya kepada selain Allah adalah syirik. Jika yang melakukan tadinya adalah orang Islam, maka keislamannya menjadi batal dengan sebab semua itu.
Allah Ta'ala memerintahkan kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam untuk menyelisihi orang-orang musyrik yang beribadah dan menyembelih karena selain Allah, Allah berfirman :
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ(162)لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ(163)
“Katakanlah, "Sesungguhnya shalat-ku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)" (QS. Al An’aam:162-163)
Di dalam surat al-Kautsar Allah Subhannahu wa Ta'ala juga berfirman :“Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu; dan berkorbanlah.” (QS. 108:2)
Kedua ayat ini menunjukkan, bahwa shalat dan penyembelihan binatang (kurban) adalah ibadah yang harus didasari niat hanya untuk Allah semata. Orang yang memalingkan atau menyimpangkan persembahan kurban atau penyembelihan kepada selain Allah adalah musyrik, sama saja statusnya dengan shalat, ruku’ dan sujud untuk selain Allah.
Mungkin saja sebagian orang yang melakukan tumbal dan sesajen beralasan, bahwa yang dipersembahkan bukanlah nyawa manusia yang konon pernah terjadi di zaman dulu, namun hanya sekedar binatang yang keberadaannya memang untuk dimanfa’atkan manusia. Hitung-hitung sedekahlah, sedekah alam, sedekah bumi, laut atau gunung, demikian sebagian di antara mereka beralasan.
Perlu diketahui, bahwa permasalahannya tidak sesederhana itu, sebab ini menyangkut tauhid dan syirik yang berkaitan dengan status keislaman seseorang serta ancaman Allah terhadap para musyrikin. Jika apa yang mereka lakukan adalah memang bentuk sedekah, maka tentu Allah dan Rasulullah akan membiarkan orang-orang jahiliyah mengerjakan hal semacam itu, sebab mereka masih mengakui rububiyah Allah. Letak permasalahannya bukanlah pada apa yang mereka sembelih atau mereka sedekahkan (menurut mereka), namun pada tujuan untuk siapa sembelihan dan persembahan itu dilakukan.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam pernah mengisahkan seseorang yang masuk neraka karena seekor lalat, dan masuk surga karena seekor lalat. Beliau bersabda, "Ada seseorang masuk surga karena seekor lalat, dan ada seseorang masuk neraka karena seekor lalat pula." Para shahabat bertanya," Bagaimana hal itu ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ada dua orang berjalan melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tak seorang pun dapat melewati berhala itu sebelum mempersembahkan kepadanya suatu kurban. Ketika itu berkatalah mereka kepada salah seorang dari kedua orang tersebut,"Persembahkanlah korban kepadanya." Dia menjawab,"Aku tidak mempunyai sesuatu yang dapat kupersembahkan kepadanya." Mereka pun berkata kepadanya lagi," Persembahkan meskipun seekor lalat." Lalu orang tersebut mempersembahkan seekor lalat dan mereka pun memperkenankan dia untuk meneruskan perjalanan, maka dia masuk neraka karenanya. Kemudian mereka berkata kepada yang lain," Persembahkanlah korban kepadanya." Dia menjawab" Tidak patut bagiku mempersembahkan sesuatu kepada selain Allah Azza wa Jalla." Kemudian mereka memenggal lehernya. Karenanya orang ini masuk surga."
Perhatikan bagaimana kondisi orang yang melakukan persembahan kepada selain Allah di dalam hadits di atas. Dia tidak dengan sengaja meniatkan persembahan itu, sekedar untuk melepaskan diri dari perlakuan buruk para pemuja berhala itu, dan hanya persembahan seekor lalat, namun ternyata telah menjerumuskannya ke dalam neraka. Jika demikian, maka bagaimana halnya dengan yang melakukan penyembelihan untuk selain Allah, lebih dari seekor lalat atas kemauan dan niat sendiri?
Gambar 11 :
Ritual pemberian tumbal kepala sapi untuk makhluk halus penunggu hutan.
Tumbal dan sesajen adalah syirik dan berbahaya, sama bahayanya dengan kemusyrikan yang lain, di antara bahaya itu adalah:
1. Merupakan Pelecehan Terhadap Martabat Manusia
Apabila seseorang menyembah kepada sesama makhluk, yang tidak dapat memberikan manfa’at dan menimpakan bahaya, maka berarti telah menjatuhkan martabat kemanusiaannya ke tempat yang terendah. Allah telah memuliakan manusia dan mengaruniakan akal kepada mereka, maka apakah layak dan pantas seorang yang berakal dan terhormat menyembah dan merendahkan diri di hadapan patung, pohon, jin, khadam, keris, batu dan yang semisalnya. Maka tidak ada pelecehan terhadap martabat manusia yang lebih parah daripada kemusyrikan.
2. Membenarkan Khurafat
Dari keyakinan syirik inilah muncul berbagai khurafat yang tersebar di masyarakat, mitos dan legenda yang penuh dengan takhayul, kisah-kisah yang sama sekali tidak bisa diterima oleh akal sehat dan tidak dapat dibenarkan oleh hati nurani manusia.
3. Syirik adalah Kezhaliman Terbesar.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman, "Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim." (al-Baqarah: 254)
Juga firman-Nya yang lain, "Sesungguhnya kemusyrikan itu adalah kezhaliman yang besar." (Lukman: 13)
Adakah kazhaliman yang lebih besar daripada sikap seseorang yang diciptakan oleh Allah tetapi justru menyembah kepada selain Allah? Atau orang yang diberi rizki oleh Allah namun justru bersyukur dan memuja kepada selain Allah?
4. Syirik Menimbulkan Rasa Takut
Orang musyrik tidak memiliki keteguhan dan rasa percaya kepada Allah, sehingga hidupnya penuh dengan kegelisahan, jiwanya labil dipermainkan oleh klenik, khurafat dan takhayul. Dia selalu diliputi ketakutan, takut akan segala-galanya dan terhadap segala-galanya, dan inilah kehidupan yang sangat buruk.
5. Menjerumuskan ke Neraka
Kemusyrikan merupakan penyebab utama untuk masuk neraka, Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman,
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al Maaidah:72)
Firman-Nya yang lain,
إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (an-Nisa: 48)
D. RUWATAN
Pengertian ruwatan dalam bahasa Jawa Kuno, ruwat berarti lebur (melebur) atau membuang, ruwatan adalah salah satu cara untuk melepaskan diri dari dominasi energi negatif yang dalam bahasa Jawa kuno disebut Sengkala dan Sukerta.Orang yang diruwat adalah orang yang ingin mengikis energi negatif (kesialan) berupa sengkala dan sukerta yang melekat pada dirinya, yaitu diri setiap orang sebagai efek dari dosa dan kesalahan.
Paranormal Bambang Yuwono menjelaskan apabila seseorang mengidap sengkala dan sukerta akibat murka Dewa Batharakala terhadap dirinya maka tanda-tanda yang langsung dirasakan oleh orang yang bersangkutan adalah sulit mendapatkan rejeki, kerja selalu salah, berdagang rugi, jodoh sulit, rumah tangga ricuh, sakit-sakitan dan sebagainya.Dikatakan oleh paranormal yang biasa meruwat bahwa secara supranatural orang tersebut memiliki aura yang redup dan tidak stabil, oleh sebab itu tahap awal orang tersebut (Karuwat) perlu diselaraskan auranya, oleh orang yang memiliki aura lebih kuat dan mampu menyalurkan tenaga inti dalam dirinya (pengruwat) untuk membangkitkan potensi diri dari sang Karuwat. Selanjutnya sang Karuwat perlu mendapat nasehat (sugesti) dari Pengruwat tentang cara memperbaiki diri dalam kehidupan yang berupa perilaku, tutur sapa, moral etika, agar dapat menjaga diri atau membendung datangnya sengkala dan sukerta. Sedangakan jenis-jenis dari ruwatan itu sendiri antara lain : Ruwatan sukerta , Ruwatan sengkala dan Ruwatan lembaga. Ruwatan berdasarkan kondisinya terbagi menjadi:
1. Ruwatan Sukerta
Adalah pangruwatan bagi anak yang terlahir sebagai anak tunggal (ontang- anting), dua bersaudara lelaki semua (uger-uger lawang), dua bersaudara perempuan semua (kembang sepasang), tiga bersaudara satu perempuan ditengah (sendang kapit pancuran) dan lain sebagainya,yang pada dasarnya ruwatan ini bersifat permohonan agar anak tersebut selanjutnya mendapat keselamatan dan kebahagian di masa depannya.
2. Ruwatan Sengkala
Ruwatan bagi orang yang dalam perjalanan hidupnya mendapat hambatan dalam rejeki, karier, jodoh, serta kesehatannya.Termasuk didalamnya adalah bagi pasangan suami istri yang mendapat gangguan dalam kehidupan pernikahannya oleh kehadiran orang ketiga atau godaan-godaan lainnya.
3. Ruwatan Lembaga
Adalah pangruwatan untuk kesuksesan suatu lembaga atau organisasi usaha,maupun ruwatan nagari.
Setelah kita lihat penjelasan ruwatan diatas,marilah kita lihat hakikat kesesatan ruwatan.Jika ruwatan dilakukan agar kita terhindar dari kutukan Dewa Batharakala (Tuhannya agama Hindu yang mempunyai sifat jahat) maka kita telah berbuat Syirik Besar kepada Allah Ta’ala sebab tidak ada tuhan-tuhan,dewa-dewi melainkan Allah.Karena Allah telah berfirman :
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلا اللهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
“Sekiranya ada dilangit dan bumi tuhan-tuhan selain Allah,tentulah keduanya itu telah rusak binasa.Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.”(QS.Anbiyaa’(21):22)
Jika kita mempercayai adanya Dewa Batharakala maka kita telah syirik pada Allah Ta’ala.Allah telah berfirman :
إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." " (An-Nisa': 48)
Jika kita mempercayai adanya kesialan akibat pertanda pada tubuh,kelahiran,tanda-tanda alam dan semacamnya maka dia telah melakukan tathayyur dan ini merupakan bentuk kesesatan.Rasulullah telah bersabda :
Dari Imran bin Hushain radhiallahu anhu, ia berkata: 'Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Bukan termasuk golongan kami yang melakukan atau meminta tathayyur (menentukan nasib sial berdasarkan tanda-tanda benda,burung dan lain-lain),yang meramal atau yang meminta diramalkan, yang menyihir atau meminta disihirkan dan barangsiapa mendatangi peramal dan membenarkan apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam."(HR. Al-Bazzaar,dengan sanad jayyid).
Sedangkan prosesi ruwatan itu sendiri adalah bentuk kesesatan karena didalamnya berisi pemujaan terhadap dewa-dewi,pemberian sesajen atau pun prosesi mandi bunga yang kental nuansa kesyirikan.
Pada saat ini kita juga harus berhati-hati akan adanya penawaran ruwatan dengan menggunakan istilah yang diilmiahkan seperti ruwatan dengan menggunakan energi-alam semesta,bioenergi,ilmu putih dan banyak lagi istilah-istilah yang mereka ilmiahkan,namun intinya tetap sama mereka tetaplah berbuat syirik pada Allah.Mereka merasa bisa mengubah nasip seseorang agar lebih baik dengan metode-metode yang tidak disyari’ahkan bahkan penuh kesesatan.
Ada kejadian yang cukup menghebohkan yang berhubungan dengan prosesi ruwatan dimana telah beredar film VCD presiden Abdurrahman Wahid (waktu itu masih jadi presiden) dalam upacara ruwatan yang diselenggarakan di pantai selatan yang meruwat adalah Romo Tunggul.Lalu beredar keyakinan pada sebagian masyarakat bahwa Nyai Roro Kidul atau Ratu Kidul mendukung Gus Dur tetap menjadi presiden dan berusaha menyembuhkan Gus Dur dari sakitnya.
Menghadapi kenyataan adanya seorang yang yang mengaku ulama,kiai,mursyid bersama pengikut-pengikutnya yang menghalalkan ruwatan,jimat,melakukan wirid,puasa dan ibadah bid’ah hingga prilaku kesyirikan dan selama hidupnya tetap dalam kesesatan,maka cukuplah kita berpegang pada ayat Allah Ta’ala berikut ini.
قُلْ مَنْ كَانَ فِي الضَّلالَةِ فَلْيَمْدُدْ لَهُ الرَّحْمَنُ مَدًّا
"Katakanlah, 'Barangsiapa berada dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan Yang Maha Pemurah memperpanjang tempo bagi-nya'." (Maryam: 75)
Bersenang-senanglah kalian didunia selama kalian hidup......
E. KUNGKUM
Menurut Drs RM Setyadji Pantjawidjaja, Ketua Umum Yayasan Swagotra Budaya Jawa Tengah, ritual kungkum telah ada pada masyarakat Jawa sejak masa pra-Hindu. Ritual ini selanjutnya mengalami akulturasi dengan tradisi Hindu.
Ritual kungkum dimaksudkan sebagai media pembersihan diri baik secara jasmani maupun rohani. Kebersihan diri merupakan prasyarat mutlak bagi manusia yang ingin mendekatkan diri dengan Tuhan. Manusia yang bersih jiwa dan raga, menurut pendiri Permadani ini, dapat mendengar aksa wakia (suara Tuhan) atau bahkan berkomunikasi dengan Tuhan. ''Ibarat kaca mata, kalau bening dapat untuk melihat dengan jelas.''
Tanggal 1 Sura dikatakan penganut kejawen adalah gerbang memasuki tahun baru. Dengan demikian, ritual kungkum ibarat orang yang akan masuk ke tempat suci, harus mencuci tangan kaki terlebih dulu. Orang yang melakukan ritual tersebut pada malam hari dengan harapan mendapatkan berkah pada tahun mendatang.
Banyak di kalangan orang muda yang masih melaksanakan tradisi kungkum dengan tujuan pembersihan diri. Yusup Sardjoko (28) misalnya, mengaku setiap tahun melakukannya. Lelaki yang mengikuti salah satu sekte kejawen di Semarang ini setiap 1 Sura menunaikan tradisi itu. Lokasi yang dipilih tergantung pada titah sang guru. Tidak menetap pada suatu tempat tertentu. Pada malam 1 Sura kali ini, dia akan kungkum di suatu tempat di wilayah Grobogan.
Sesungguhnya jika dikatakan kungkum bisa membersihkan diri dari segala dosa ,agar terkabul hajadnya dan sarana mendekatkan diri pada Allah merupakan suatu bentuk kesesatan yang nyata.Bagaimana mungkin kita bisa membersihkan diri kita dari segala dosa,ingin terkabul hajadnya dan sarana mendekatkan diri pada Allah jika dalam ritual kungkum itu baik-laki-laki tumpah-ruah bersama-sama dalam satu tampat pemandian berikhtilat (bercampur) dengan melakukan rutal-ritual yang sangat menyimpang dengan ajaran islam seperti sewaktu kungkum diharuskan untuk membuka aurad bahkan telanjang,diharuskan untuk membaca wirid-wirid atau mantra-mantra,menelungkupkan tangan didada dalam posisi namaskar (istilah dalam agama Budha). dan bahkan tidak jarang kita mendengar terjadinya perbuatan maksiat dalam prosesi kungkum.
Selain itu tradisi kungkum dianggap sebagai warisan nenek moyang yang harus dilestarikan adalah ucapan kebathilan sebab fanatik (ta'ashshub) mempertahankan pada kepada sesuatu yang diwarisi dari bapak dan nenek moyangnya, sekalipun hal itu batil, dan mencampakkan apa yang menyalahi adalah suatu kesesatan yang nyata.
Sebagaimana yang difirmankan Allah SWT dalam surah Al-Baqarah: 170 yang artinya, "Dan apabila dikatakan kepada mereka: 'Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah', mereka menjawab: '(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami'. (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk.”
Jadi kesimpulannya tradisi kungkum bukanlah sebagai sarana mendakatkan diri pada Allah dari warisan jaman dahulu bukanlah petunjuk dari Allah apalagi adanya penyimpangan dan kesesatan yang nyata dalam prosesi kungkum melainkan pertunjuk dari setan untuk menjerumuskan manusia pada kemaksiatan yang nyata.Marikah kita membersihkan diri kita dari prilaku najis yang penuh dengan maksiat kepada Allah.
Gambar:12
Prosesi kungkum dimana laki-laki dan perampuan ber-ikhtilat dan memakai pakaian yang sangat minim bahkan telanjang
F. ZIARAH ATAU PENGKULTUSAN WALI ATAU TOKOH YANG DIPERCAYA SAKTI
Pengkultusan terhadap seseorang, ditemukan hampir merata di seluruh penjuru nusantara. Disebabkan punya kedudukan atau dianggap tokoh besar maka ia dikultuskan dan dikeramatkan.
Pengkeramatan sang tokoh ini berlangsung sejak tokoh tadi hidup bahkan sampai ia meninggal dunia. Barang-barang yang berkaitan dengan sosok tadi pun dicari-cari dan diagung-agungkan, dijadikan jimat dan tidak lupa untuk dikeramatkan.Tambah parah lagi, makamnya senantiasa ramai dipadati oleh para pengagum dan simpatisan yang pingin 'ngalap berkah' dari kubur sang tokoh. Selalu semarak, itu yang terjadi di makam orang yang ditokohkan. Bahkan ketika tiba saat ulang tahun kematian dan kelahiran tokoh, semaraknya kubur lebih dibandingkan dengan semaraknya masjid-masjid Allah.
Kenyataan ini lebih tambah mengenaskan ketika ditemukan kenyataan bahwa mayoritas peziarah adalah mereka yang menyatakan diri sebagai orang muslim. Aktivitas yang berhubungan dengan pengagungan seorang tokoh selalu akan bertambah variasinya, karena berjalan seiring dengan ide dan kreativitas para pengagum. Contoh konkrit ada di zaman Nabi Nuh; Meninggalnya para tokoh agama di zaman itu memunculkan ide di kalangan para pengagum untuk membangun patung dan gambar demi mengenang sang tokoh. Awalnya untuk mendekatkan pada Allah. Ide berkembang setelahnya dengan menjadikan sang tokoh sebagai perantara dalam berdoa kepada Allah. Berkembang lagi hingga menjadikan patung tadi sesembahan yang diibadahi selain Allah.
Anggapan yang telah menyebar di kaum muslimin pada umumnya, terutama yang ada di Indonesia bahwasanya yang disebut wali Allah adalah orang-orang yang memiliki kekhususan-kekhususan yang tidak dimiliki oleh orang-orang biasa. Yaitu mampu melakukan hal-hal yang ajaib yang disebut dengan karomah para wali. Sehingga jika ada seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi tentang syari’at Islam namun tidak memiliki kekhususan ini maka kewaliannya diragukan. Sebaliknya jika ada seseorang yang sama sekali tidak berilmu bahkan melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah dan meninggalkan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah , namun dia mampu menunjukan keajaiban-keajaiban (yang dianggap karomah) maka orang tersebut bisa dianggap sebagai wali Allah .
Hal ini disebabkan karena kaum muslimin (terutama yang di Indonesia) sejak kecil telah ditanamkan pemahaman yang rusak ini. Apalagi ditunjang dengan sarana-sarana elektronik seperti adanya film-film para sunan yang menggambarkan kesaktian para wali. Tentunya hal ini adalah sangat berbahaya yang bisa menimbulkan rusaknya aqidah kaum muslimin.
Kreatifitas kesyirikan ini hampir selalu berulang di setiap zaman dan generasi, karena ini adalah makar syaitan untuk menjerumuskan umat manusia ke dalam neraka. Tokoh yang dipuja bisa jadi berbeda namun sebenarnya hakikat kebatilan yang ditawarkan adalah sama. Di zaman Nabi Nuh yang diagungkan adalah wadd, suwa , yaghuts , yauq dan nashr, dan di kafir qurays ada yang dinamakan latta, uzza, manna dan hubbal.
Dan di negeri ini pun ada pula yang ditokohkan seperti itu. Wujud kreatifitas kesyirikan yang bisa ditemukan di masa kini, adalah dibuatnya berbagai perhelatan untuk mengagungkan sang tokoh, baik dengan mengadakan tour ziarah dan penarikan energi para wali, atau peringatan ulang tahun kelahiran dan kematian (haul). Atau mengawetkan barang-barang peninggalannya
Bila ditimbang dalam syariat Islam, hal yang berkaitan dengan mengagungkan tokoh dan peninggalan-peninggalan bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Bahkan sebaliknya pintu-pintu yang menuju kepada pengagungan tokoh melebihi kapasitas kemanusiaan dicegah dan ditutup oleh Rasulullah dan para sahabat.
Pengagungan terhadapan suatu benda dan individu tertentu hampir selalu identik dengan kesyirikan. Umumnya, sebuah masyarakat akan mengagungkan tokoh dan benda karena berjangkitnya penyakit kebodohan di tengah-tengah mereka. Tak tahu mana yang diperintahkan dan dilarang oleh syariat Allah Ta'ala. Atau hadir di negeri tersebut para tokoh agama yang buruk yang memberikan contoh teladan keburukan kepada umat, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Sampai hal yang syirik pun dilegalkan oleh ulama buruk ini. Bisa juga terjadi karena memang masyarakat terlampau ghuluw dalam mengagungkan seorang tokoh. Atau bercokol di negeri itu para pemimpin yang buruk, yang tak menjalankan syariat Allah ta'ala.
Hukum ziarah ke kubur itu jelas dianjurkan dalam Islam. Karena didalamnya terkandung pesan agar kita ingat bahwa sebentar lagi kita pun akan ada di dalamnya. Dan semua orang pastilah akan menjadi penghuninya, cepat atau lambat.Namun jika kita berkeyakinan bahwa orang yang sudah mati itu lantas berdoa juga kepada Allah SWT untuk kebaikan kita, maka ada yang salah dalam memahaminya. Selain itu, menziarahi makam para wali itu harus dicermati dengan pemahaman akidah yang benar. Misalnya antara lain :
1. Bahwa orang yang sudah mati itu tidak bisa berdoa demi keselamatan dirinya sendiri, bahkan sibuk mengharapkan kiriman pahala bantuan dari orang yang masih hidup. Lalu bagaimana pula dia berdoa untuk keselamatan orang lain ?
2. Bahwa kita dibolehkan meminta untuk didoakan oleh orang yang shaleh dan dekat hubungan dengan Allah SWT. Namun bila orang shalih itu sudah wafat, tentu saja sudah lain lagi urusannya. Sebab mereka yang sudah mati sudah tidak lagi berurusan dengan yang masih hidup.
3. Bahwa meminta kepada mendoakan orang yang sudah wafat agar ruh orang mati itu mendoakan kita bukanlah sesuatu yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Dan pada prakteknya, justru hal itu sangat sulit dibedakan dengan meminta kepada ruh orang mati. Minta istri, lulus ujian, dagangan laku, naik jabatan, terpilih jadi wakil rakyat dan seterusnya. Tentu saja meminta kepada selain Allah SWT adalah syirik yang harus dihilangkan.
4. Dan sebenarnya, para wali yang diziarahi itu dulunya bukanlah tokoh sakti mandraguna yang punya sekian jenis ajian ghaib. Mereka itu adalah para pemimpin wilayah negeri Islam dalam sistem hukum negara Islam Demak. Istilah ‘wali’ yang disematkan kepada mereka bukanlah waliyullah yang umumnya dinisbatkan kepada orang ahli ibadat dan punya keistimewaan ini dan itu. Namun makna wali adalah pemimpin sebuah wilayah secara hukum dan administratif. Barangkali sekarang ini seperti gubernur. Hanya saja sistem hukumnya adalah hukum Islam. Itulah yang dikatakan para sejarawan tentang para wali songo itu. Sedangkan cerita yang beredar di tengah masyarakat itu sebenarnya tidak pernah bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya secara ilmiyah. Dan alangkah naifnya bila sosok para pemimpin Islam dan penyebar Islam di tanah Jawa itu disamakan dengan tokoh dunia persilatan yang bisa terbang, menghilang, bisa membuat hal ghaib dan sejenisnya.
Ketahuilah Allah telah menjelaskan dalam kitab-Nya dan sunnah Rosul-Nya bahwasanya Allah memiliki wali-wali dari golongan manusia dan demikian pula syaithon juga memiliki wali-wali dari golongan manusia. Maka Allah membedakan antara para wali Allah dan para wali syaithon. Sebagaimana firman Allah :
اللهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Allah adalah wali (penolong) bagi orang-orang yang beriman. Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir penolong-penolong mereka adalah thogut yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan-kegelapan.Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya."”(Al-Baqarah : 257)
Allah Ta’ala juga berfirman
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ(98)إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ(99)إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ(100)
“Jika engkau membaca Al-Qur’an maka berlindunglah kepada Allah dari (godaan) syaithon yang terkutuk. Sesungguhnya tidak ada kekuatan baginya terhadap orang-orang yang beriman dan mereka bertawakal kepada Rob mereka. Hanyalah kekuatannya terhadap orang-orang yang berwala’ kepadanya dan mereka yang dengannya berbuat syirik.” (An-Nahl :98-100)
Allah Ta’ala juga berfirman :
وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا
“Dan barangsiapa yang menjadikan syaithon sebagai wali selain Allah maka dia telah merugi dengan kerugian yang nyata”(An-Nisa’ : 119)
Allah Ta’ala juga berfirman :
الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dan orang-orang kafir berperang di jalan thogut. Maka perangilah para wali-wali syaithon sesungguhnya tipuan syaithon itu lemah.” (An-Nisa’ : 76)
Maka wajib bagi kita untuk membedakan manakah yang merupakan wali-wali Allah dan manakah yang merupakan wali-wali syaithon, sebagaimana Allah dan Rosulullah membedakannya.
Definisi wali adalah :Wali diambil dari lafal al-walayah yang merupakan lawan kata dari al-‘adawah. Adapun arti dari al-walayah adalah al-mahabbah (kecintaan) dan al-qorbu (kedekatan). Sedangkan arti al-‘adawah adalah al-bugdlu (kebencian) dan al-bu’du (kejauhan). Sedangkan wali artinya yang dekat.
1. Kriteria Wali Allah
Yang disebut wali Allah adalah orang yang dia mencintai Allah dan dekat dengan Allah . Dan orang seperti ini harus memiliki sifat-sifat berikut :
Dia harus ittiba’ (mengikuti) Nabi , menjalankan perintah Nabi dan menjauhi larangan-larangan beliau. Berdasarkan firman Allah :“Katakanlah”Jika kalian mencintai Allah maka ikutlah aku maka Allah akan mencintai kalian” (Ali Imron :31).Ayat ini merupakan ayat ujian yang turun untuk menguji orang-orang yang mengaku mencintai Allah (termasuk di dalamnya orang yang mengaku dia adalah wali Allah). Jika dia benar mengikuti Nabi maka kecintaannya kepada Allah adalah benar, dan jika tidak maka cintanya adalah dusta.
Dia harus bersifat lembut kepada kaum muslimin dan keras kepada kaum kafir, dan berjihad di jalan Allah dan tidak takut dengan celaan orang-orang yang mencela, sesuai dengan firman Allah :“Wahai orang-orang yang beriman barang siapa dari kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah yang bersifat lemah lembut kepada orang-orang mukmin, yang bersifat keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan tidak takut dengan celaan orang yang mencela.”(Al-Maidah : 54)
Dia harus bertaqwa dan beriman, yaitu beriman dengan hatinya dan bertaqwa dengan anggota tubuhnya, sesuai dengan firman Allah:“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih (hati). (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” (Yunus : 62,63)
Maka barangsiapa yang mengaku sebagai wali Allah namun tidak memiliki sifat-sifat ini maka dia adalah pendusta.
Namun perlu diperhatikan bukanlah syarat seorang wali dia harus ma’sum (tidak pernah berbuat salah), dan tidak pula dia harus menguasai seluruh ilmu syari’at. Bahkan boleh baginya tidak mengetahui sebagian syari’at atau masih samar baginya sebagian perkara agama. Oleh karena itu tidak wajib bagi manusia untuk mengimani seluruh apa yang dikatakan oleh seorang wali Allah sehingga dia tidak menjadi seorang Nabi , tetapi seluruh yang dikatakannya dikembalikan kepada ajaran Muhammad . Jika sesuai, maka perkataannya diterima dan jika tidak, maka ditolak. Dan jika tidak diketahui apakah sesuai atau tidak dengan ajaran Nabi maka tawaquf Dan inilah sikap yang benar kepada wali Allah. Adapun sikap yang salah kepada wali Allah yaitu membenarkan semua apa yang diucapkan dan yang dilakukannya, atau sebaliknya jika melihat dia mengatakan atau melakukan sesuatu yang menyelisihi syari’at maka langsung mengeluarkan dia dari kewaliannya.
Umar bin Khottob adalah contoh seorang wali Allah, yang Rasulullah bersabda tentangnya :
Pada umat-umat sebelum kalian ada orang-orang yang muhaddatsun (yang mendapatkan berita ghoib atau sejenis ilham dari Allah). Kalaupun ada di kalangan umatku satu orang, maka dia adalah Umar.
“Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lisan Umar dan pada hatinya. Kalaulah ada nabi setelahku maka dia adalah Umar. “
Hadits-hadits ini jelas menunjukan bahwasanya Umar adalah seorang wali Allah, bahkan beliau mendapatkan ilham dari Allah. Namun hal ini tidak menunjukan bahwa Umar harus ma’sum (terjaga dari kesalahan). Kesalahan yang pernah beliau lakukan diantaranya
Yaitu pada saat Nabi Muhammad saw berumroh pada tahun ke enam Hijiroh bersama sekitar 1400 kaum muslimin –mereka itu yang berbai’at di bawah pohon- dan Nabi telah mengadakan perjanjian damai dengan kaum musyrikin setelah melalui perundingan dengan kaum musrikin tersebut untuk kembali ke Madinah pada tahun ini dan berumroh pada tahun yang akan datang. Dan Nabi memberi beberapa syarat terhadap mereka yang dalam syarat-syarat tersebut ada tekanan kepada kaum muslimin secara dzohir, sehingga hal itu memberatkan kebanyakan kaum muslimin, sedangkan Allah dan Rosul-Nya lebih mengetahui dengan maslahat yang ada di balik itu. Dan Umar termasuk orang yang tidak setuju dengan hal itu, lalu berkata kepada Nabi :”Wahai Rosulullah, bukankah kita di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan ?”, maka Nabi menjawab :”Benar”, lalu Umar berkata lagi :”Bukankah orang-orang yang terbunuh diantara kita masuk ke dalam surga dan orang-orang yang terbunuh di antara mereka masuk ke dalam neraka?”, Nabi menjawab :”Benar”. Umar berkata :”Kenapa kita merendahkan agama kita?”, Nabi berkata :”Aku adalah Rosulullah dan Allah adalah penolongku dan aku bukanlah orang yang bermaksiat kepadanya.”, Umar berkata :”Bukankah engkau berkata kepada kami bahwa kita kita akan mendatangi baitulloh dan berthowaf ?”, Nabi berkata :”Benar”. Nabi berkata lagi:”Apakah aku mengatakan kepadamu sesungguhnya engkau akan mendatanginya pada tahun ini?”, Umar berkata :”Tidak”, Nabi berkata :”Sesungguhnya engkau akan mendatanginya dan berthowaf.” Umar pun mendatangi Abu Bakar dan berkata kepadanya sebagaimana perkataannya kepada Rosulullah. Dan Abu Bakar pun menjawab sebagaimana jawaban Rosulullah , padahal dia tidak mendengar jawaban Rosulullah . Dan Abu Bakar adalah orang yang lebih sering sesuai dengan Allah dan Rosul-Nya dari pada Umar , dan Umar mengakui kesalahannya dan berkata :”Aku benar-benar akan mengamalkannya”
Ketika Nabi wafat, Umar mengingkari kematian Nabi . Namun tatkala Abu Bakar berkata :”Sesungguhnya dia telah wafat”, maka Umar pun menerimanya.
Ketika Abu Bakar memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat, maka Umar berkata kepada Abu Bakar :”Bagaimana bisa kita memerangi manusia, sedangkan Rosulullah bersabda :”Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku adalah Rosulullah. Apabila mereka mengakui hal ini maka terjagalah darah-darah dan harta-harta mereka, kecuali dengan haknya”, maka Abu Bakar berkata :”Bukanlah Rosulullah bersabda “kecuali dengan haknya”?, sesungguhnya zakat termasuk haknya. Demi Allah kalau mereka itu menolak untuk membayar zakat kepadaku yang mereka membayarnya kepada Rosulullah maka aku akan memerangi mereka karena ketidakmauan mereka”. Berkata Umar ”Demi Allah tidaklah ada, kecuali aku melihat Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi (orang-orang yang enggan membayar zakat), maka aku mengetahui bahwasanya dia adalah benar”
Faidah yang bisa diambil dari kisah ini adalah:
Seorang wali tidak ma’sum, bisa berbuat salah, bahkan berkali-kali.
Seorang wali bisa memiliki karomah sebagaimana Umar yang mendapat ilham dari Allah.
Tidak berarti seseorang yang mendapat karomah berarti lebih mulia daripada wali Allah yang tidak ada karomahnya. Sebagaimana Abu Bakar jelas lebih mulia daripada Umar , namun dia tidak mendapatkan ilham dari Allah
Seorang wali tetap harus melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rosul-Nya dan menjauhi larangan-larangan Allah dan Rosul-Nya. Sebagaimana Umar yang tetap melaksanakan perintah Allah
Walaupun seorang wali, tapi perkataan dan perbuatannya harus ditimbang dengan Al-Kitab dan Sunnah Nabi yang ma’sum. Sebagaimana ucapan Umar dikembalikan (ditimbang) oleh Abu Bakar dengan Sunnah Nabi. Berkata Yunus bin Abdil A’la As-Shodafi : Saya berkata kepada Imam Syafi’i : “Sesungguhnya sahabat kami –yaitu Al-Laits- mengatakan :”Apabila engkau melihat seorang bisa berjalan di atas (Permukaan) air, maka janganlah engkau anggap dia sebelum engkau teliti keadaan (amalan-amalan) orang tersebut, apakah sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.”, lalu Imam Syafi’i berkata :”Al-Laits masih kurang, bahkan kalau engkau melihat sesseorang bisa berjalan di atas air atau bisa terbang di udara, maka janganlah engkau anggap ia sebelum engkau memeriksa keadaan (amalan-amalan) orang trsebut apakah sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah”.
Seorang wali yang telah jelas bahwasanya perkataan atau perbuatannya menyelisihi Sunnah Nabi, maka dia harus kembali kepada kebenaran. Dan dia tidak menentangnya. Sebagaimana Umar , beliau tidak membantah Abu Bakar dengan berkata :”Tapi saya kan wali, saya kan mendapat ilham dari Allah, saya kan dijamin masuk surga, dan kalian harus menerima perkataan saya”
Seorang wali harus mematuhi syari’at Muhammad. Para Nabi saja kalau hidup sekarang harus mengikuti syari’at Muhammad apalagi para wali. Karena jelas para Nabi lebih bertaqwa daripada para wali dari selain Nabi. Ibnu Mas’ud t berkata :”Tidaklah Allah mengutus seorang nabipun kecuali Allah mengambil perjanjiannya, jika Muhammad telah diutus dan nabi tersebut masih hidup maka nabi tersebut harus benar-benar beriman kepadanya dan menolongnya. Dan Allah memerintah Nabi tersebut untuk mengambil perjanjian kepada umatnya kalau Muhammad telah diutus dan mereka (umat nabi tersebut masih) hidup maka mereka akan benar-benar beriman kepadanya dan menolongnya.”
Seorang wali tidak boleh menyombongkan dirinya dengan mengaku-ngaku bahwa dia adalah wali, sebagaimana yang dilakukan oleh Ahlul kitab yang mereka mengaku bahwa mereka adalah wali-wali Allah. Sebagaimana firman Allah : “Dan janganlah kalian menyatakan diri-diri kalian suci. Dia (Allah) yang lebih mengetahui tentang orang yang bertaqwa.” (An-Najm : 32 )
Orang mengaku dirinya adalah wali maka dia telah berbuat maksiat kepada Allah karena telah melanggar larangan Allah ini. Dan orang yang bermaksiat tidak pantas disebut wali Allah.
Dan juga bukan termasuk syarat sebagai wali Allah yaitu dia harus memiliki karomah. Namun karomah merupakan tambahan kenikmatan yang Allah berikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki dari kalangan para wali-Nya. Dan wali-wali Allah tidak memiliki ciri-ciri yang khusus pada perkara-perkara mubah yang bisa membedakannya dengan manusia yang lain. Pakainnya sama, rambutnya sama, dan yang lainnya juga sama.
Contoh-contoh karomah para wali Allah
Amir bin Fahiroh mati syahid, maka mereka mencari jasadnya namun tidak bisa menemukannya. Ternyata ketika dia terbunuh dia diangkat dan hal ini dilihat oleh Amir bin Thufail. Berkata Urwah:”Mereka melihat malaikat mengangkatnya”
Kholid bin Walid ketika mengepung musuh di dalam benteng yang kokoh, maka para musuhpun berkata :”Kami tidak akan menyerah sampai engkau meminum racun”, lalu diapun meminum racun namun tidak mengapa.
Sa’ad bin Abi Waqqos adalah orang yang selalu dikabulkan do’anya. Dan dengan do’anya itulah dia berhasil mengalahkan pasukan Kisro dan menguasai Iroq.
Umar bin Khottob, pernah mengutus pasukan dan beliau mengangkat seorang pemuda yang bernama Sariyah untuk memimpin pasukan tersebut. Dan ketika Umar sedang berkhutbah di atas mimbar, beliau berteriak :”Wahai Sariyah, gunung !, wahai Sariyah, gunung !”. Lalu utusan pasukan tersebut menemui Umar dan berkata : “Wahai Amirul Mu’minin, kami bertemu musuh, tiba-tiba ada suara teriakan :”Wahai Sariyah, gunung!”, lalu kami menyandarkan punggung-punggung kami ke gunung kemudian Allah memenangkan kami”.
Abu Muslim Al-Khoulani, dia pernah dicari oleh Al-Aswad Al-‘Anasi yang mengaku sebagai nabi. Lalu Al-Aswad bertanya kepada beliau :”Apakah engkau bersaksi bahwa saya adalah Rosul Allah?”, lalu dia berkata :”Saya tidak dengar”, lalu dia bertanya lagi :”Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rosul Allah?”, beliau menjawab :”Ya”. Lalu disiapkan api dan beliau dilemparkan ke api. Namun mereka mendapatinya sedang sholat di dalam kobaran api itu, api itu menjadi dingin dan keselamatan untuknya.
Sa’id Ibnul Musayyib, di waktu hari-hari yang panas, beliau mendengar adzan dari kuburan Nabi ketika tiba waktu-waktu sholat, dan mesjid dalam keadaan kosong (karena panasnya hari –pent), tidak ada seorangpun kecuali dia.
Uwais Al-Qorni ketika wafat mereka menemukan di bajunya ada beberapa kain kafan yang sebelumnya tidak ada, dan mereka juga menemukan lubang yang digali di padang pasir yang sudah ada lahadnya. Lalu mereka mengafaninya dengan kefan-kafan teresbut dan menguburkannya di lubang tersebut.
Asid Bin Hudlair membaca surat Al-Kahfi lalu turunlah bayangan dari langit yang ada semacam lentera dan itu adalah para malaikat yang turun karena bacaannya. Dan malaikat pernah menyalami Imron bin Husain . Salman dan Abu Darda’ makan di piring lalu piring mereka bertasbih atau makanan yang ada pada piring tersebut bertasbih. Ubbad bin Busyr dan Asid bin Hudlair kembali dari Rosulullah pada malam yang gelap gulita. Maka Allah menjadikan cahaya bagi mereka berdua, dan tatkala mereka berpisah maka terpisah juga cahaya tersebut.
Muthorrif bin Abdillah jika memasuki rumahnya maka tempayan-tempayannya bertasbih bersamanya. Dia bersama seorang sahabatnya berjalan di malam hari, lalu Allah menjadikan cahaya untuk mereka berdua.
Ahnaf bin Qois. Ketika dia wafat, tutup kepala milik seseorang terjatuh di kuburannya. Lalu orang tersebut mengambil topinya, dan dia melihat kuburannya telah menjadi seluas mata memandang.
Utbah Al-gulam, dia meminta kepada Allah tiga perkara, yaitu suara yang indah, air mata yang banyak, dan makanan yang diperoleh tanpa usaha. Dan jika dia membaca Al-Qur’an maka dia menangis dengan air mata yang banyak. Dan jika dia bernaung di rumahnya dia mendapatkan makanan dan dia tidak tahu dari manakah makanan tersebut.
2. Kriteria Wali Syaitan.
Allah Ta’ala telah menerangkan ciri-ciri wali syaitan pada ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini :
Allah Ta’ala berfirman :
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
“Dan barang siapa yang berpaling dari pengajaran Ar-Rohman, kami adakan baginya syaithon yang menyesatkan, maka syaithon itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Az-Zukhruf : 36)
Allah Ta’ala juga berfirman :
هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ(221)تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ(222)يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ(223)
“ Apakah akan aku beritahukan kepadamu, kepada siapkah syaithon-syaithon itu turun ?,mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak dosa. Mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaithon) itu, dan kebanyakan mereka adalah pendusta.” (As-Syu’aro’ : 221,223)
Contoh-contoh tipuan syaithon :
Abdullah bin Soyyad. Nabi pernah menguji Ibnu Soyyad (seorang dukun yang hidup di zaman Nabi yang dia adalah seorang Yahudi). Nabi berkata kepadanya :”(Cobalah tebak) aku menyembunyikan sesuatu (di hatiku)”. Ibnu Soyyad berkata :”Ad-Dukh…Ad-Dukh..”. Padahal sesungguhnya Nabi sedang menyembunyikan surat Ad-Dukhon. Lalu Nabi berkata kepadanya :”Engkau tidak mampu melampaui kemampuanmu” Ibnu Soyyad hampir betul menebak apa yang ada di hati Nabi, dan ini adalah suatu keajaiban, namun dengan bantuan syaithon. Karena seorang yang normal maka dia tidak akan bisa mengetahui isi hati manusia, bahkan Nabi pun tidak mengetahui isi hati manusia kecuali yang diberitahu oleh Allah . Para sahabat pun (kecuali Hudzifah, karena dia telah diberitahu oleh Nabi tidak mengetahui siapa-siapa saja orang munafik yang ada bersama mereka)
Al-Aswad Al-‘Anasi yang mengaku sebagai nabi. Dia dibantu para syaithon yang memberitahukan kepadanya tentang perkara-perkara ghoib. Dan tatkala kaum muslimin memeranginya mereka kawatir para syaithonnya akan mengabarkan kepadanya apa yang mereka bicarakan tentang dirinya (yaitu bahwasanya dia akan dibunuh –pent). Namun istrinya sadar akan kekafiran suaminya maka diapun menolong kaum muslimin.
Musailamah Al-Kadzdzab yang juga mengaku sebagai nabi, memiliki syaithon-syaithon yang memberitahukan perkara-perkara gho’ib kepadanya dan membantunya melakukan hal-hal yang ajaib. Diantaranya dia pernah meludah di sumur sehingga air sumur tersebut menjadi melimpah.
Al-Harits Ad-Dimasyqi, seorang pembohong besar yang muncul dan mengaku sebagi nabi di Syam pada zaman khalifah Abdul Malik bin Marwan (wafat tahun 86 H). Al-Harits memiliki kemampuan ajaib. Para syaithonnya melepaskan kedua kakinya dari belenggu, dan membuatnya kebal senjata, dan batu pualam bisa bertasbih jika dia sentuh dengan tangannya. Dan dia telah melihat orang-orang dalam keadaaan berjalan dan naik kuda terbang di udara, dia berkata : “Mereka adalah malaikat”, padahal mereka adalah jin. Dan tatkala kaum muslimin menangkapnya untuk dibunuh, maka ada orang yang menombaknya di tubuhnya, namun tidak mempan. Maka Abdul Malik berkata kepadanya :”Engkau tidak menyebut nama Allah”. Lalu orang itu menyebut nama Allah dan berhasil membunuh Al-harits.
Lia ‘Aminuddin, yang mengaku sebagai Imam Mahdi dan mengaku telah didatangi oleh Jibril. Keajaiban yang ada padanya yaitu dia mampu untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Bahkan dia mengaku adalah seseorang yang memberantas bid’ah dan kesyririkan.
G. TAWWASUL MEMINTA BANTUAN ARWAH NABI,WALI ATAU TOKOH TERTENTU
Ritual-ritual sesat seperti ini dapat kita saksikan pada acara-acara malam 1 Syuro (Muharram). Diantara mereka ada yang mengadakan acara ritual di pantai laut selatan, mereka ramai-ramai melepaskan bermacam-macam sesajen seperti hewan yang masih hidup, aneka makanan, bunga-bungaan dan kemenyan sambil memanggil-manggil arwah,memohon dan meminta pertolongan pada Rasulullah,Nabi Khidir, Syekh Abdul Qodir Jailani dan memanggil Nyi Roro Kidul. Tujuan mereka melakukan ini agar Nyi Roro Kidul yang "katanya" menjadi penguasa di pantai laut selatan itu tidak minta korban atau minta rizki dan keselamatan pada tahun ini. Sesungguhnya tawwasul yang mereka lakukan adalah suatu kesesatan dan kesyirikan yang nyata.
Gambar 13: Ritual patok negoro tiap malam satu suro, ritual syirik berisi pemujaan pada Nyi Roro Kidul
Berikut ini akan saya jelaskan kesesatan-kesesatan dalam bertawwasul yang sama sekali tidak dituntunkan Rasulullah dan juga akan saya jelaskan tawwasul yang di syari’atkan sebagaimana yang diperintahkan oleh Al-Qur'an, diteladankan oleh Rasulullah dan dipraktekkan oleh para sahabat.
1. Tawwasul Sesat.
Tawassul dengan orang-orang mati, meminta hajat dan memohon pertolongan kepada mereka,
Sebagaimana banyak kita saksikan pada saat ini,ada sebagian umat islam meminta pertolongan,petunjuk,kepada orang-orang yang telah meninggal yang dianggap mempunyai keutamaan atau kesucian atau pada makhluk-makhluk sebangsa jin atau setan dengan membakar kemenyam bahkan memberikan sesajen.Mereka menamakan perbuatan tersebut sebagai tawassul, padahal sebenarnya tidak demikian. Sebab tawassul adalah memohon kepada Allah dengan perantara yang disyari'atkan. Seperti dengan perantara iman, amal shalih, Asmaa'ul Husnaa dan sebagainya.
Berdo'a dan memohon kepada orang-orang mati (seperti para Nabi atau Wali Allah) dan pada jin atau setan (seperti Nyi Roro Kidul) adalah berpaling dari Allah. Ia termasuk syirik besar. Allah berfirman, "Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa'at dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim". (Yunus: 106)
Orang-orang zhalim dalam ayat di atas berarti orang-orang musyrik yang melakukan syirik besar karena menyekutukan Allah.
Tawassul dengan kemuliaan Rasulullah,Para Nabi atau Wali-Wali Allah yang telah wafat.
Seperti ucapan mereka, "Wahai Tuhanku, dengan kemuliaan Muhammad, dengan kemuliaan Nabi Khidir,dengan kemuliaan Syaikh Abdul Qadir Jailani sembuhkanlah aku." Ini adalah perbuatan bid'ah. Sebab para sahabat tidak melakukan hal tersebut. Adapun tawassul yang dilakukan oleh Umar bin Khaththab dengan do'a paman Rasulullah , Al-Abbas adalah semasa ia masih hidup. Dan Umar tidak ber-tawassul dengan Rasulullah setelah beliau wafat. Sedangkan hadits, "Bertawassullah kalian dengan kemuliaanku." Hadits tersebut sama sekali tidak ada sumber aslinya. Demikian menurut Ibnu Taimiyah. Tawassul bid'ah ini bisa menyebabkan pada kemusyrikan. Yaitu jika ia mempercayai bahwa Allah membutuhkan perantara. Sebagai-mana seorang pemimpin atau penguasa. Sebab dengan demikian ia menyamakan Tuhan dengan makhlukNya. Abu Hanifah berkata, "Aku benci memohon kepada Allah, dengan selain Allah." Demikian seperti disebutkan dalam kitab Ad-Durrul Mukhtaar.
Meminta agar Rasulullah Mendo'akan Dirinya Setelah Beliau Wafat
Seperti ucapan mereka, "Ya Rasulullah do'akanlah aku", ini tidak diperbolehkan. Sebab para sahabat tidak pernah melakukannya. Juga karena Rasulullah bersabda, "Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo'akan kepada (orang tua)-nya." (HR. Muslim)
2. Tawasul Yang Disyari’ahkan.
Tawassul dengan iman
Seperti yang dikisahkan Allah dalam Al-Qur'an tentang hamba-Nya yang ber-tawassul dengan iman mereka. Allah berfirman, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu), 'Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu', maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti." (Ali Imran: 193)
Tawassul dengan mengesakan Allah
Seperti do'a Nabi Yunus, ketika ditelan oleh ikan Nun. Allah mengisahkan dalam firmanNya: "Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, 'Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim. Maka Kami telah memperkenankan do'anya, dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (Al-Anbiyaa': 87-88)
Tawassul dengan Nama-nama Allah
Sebagaimana tersebut dalam firmanNya, "Hanya milik Allah Asma'ul Husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma'ul Husna itu." (Al-A'raaf: 180) Di antara do'a Rasulullah dengan Nama-namaNya yaitu:"Aku memohon KepadaMu dengan segala nama yang Engkau miliki." (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan shahih)
Tawassul dengan Sifat-sifat Allah
Sebagaimana do'a Rasulullah, "Wahai Dzat Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya), dengan rahmatMu aku mohon pertolongan." (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan)
Tawassul dengan amal shalih
Seperti shalat, berbakti kepada kedua orang tua, menjaga hak dan amanah, bersedekah, dzikir, membaca Al-Qur'an, shalawat atas Nabi, kecintaan kita kepada beliau dan kepada para sahabatnya, serta amal shalih lainnya.
Dalam kitab Shahih Muslim terdapat riwayat yang mengisahkan tiga orang yang terperangkap di dalam gua. Lalu masing-masing bertawassul dengan amal shalihnya. Orang pertama bertawassul dengan amal shalihnya, berupa memelihara hak buruh. Orang kedua dengan baktinya kepada kedua orang tua. Orang yang ketiga bertawassul dengan takutnya kepada Allah, sehingga menggagalkan perbuatan keji yang hendak ia lakukan. Akhirnya Allah membukakan pintu gua itu dari batu besar yang menghalanginya, sampai mereka semua selamat.
Tawassul dengan meninggalkan maksiat
Misalnya dengan meninggalkan minum khamr (minum-minuman keras), berzina dan sebagainya dari berbagai hal yang diharamkan. Salah seorang dari mereka yang terperangkap dalam gua, juga bertawassul dengan meninggalkan zina, sehingga Allah menghilangkan kesulitan yang dihadapinya.
Adapun umat Islam sekarang, mereka meninggalkan amal shalih dan bertawassul dengannya, lalu menyandarkan diri bertawassul dengan amal shalih orang lain yang telah mati. Mereka melanggar petunjuk Rasulullah dan para sahabatnya.
Tawassul dengan memohon do'a kepada para nabi dan orang-orang shalih yang masih hidup.
Tersebutlah dalam riwayat, bahwa seorang buta datang kepada Nabi. Orang itu berkata, "Ya Rasulullah, berdo'alah kepada Allah, agar Dia menyembuhkanku (sehingga bisa melihat kembali)." Rasulullah menjawab, "Jika engkau menghendaki, aku akan berdo'a untukmu, dan jika engkau menghendaki, bersabar adalah lebih baik bagimu." Ia (tetap) berkata, "Do'akanlah." Lalu Rasulullah menyuruhnya berwudhu secara sempurna, lalu shalat dua rakaat, selanjutnya beliau menyuruhnya berdo'a dengan mengatakan, "Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu, dan aku menghadap kepadaMu dengan (perantara) NabiMu, seorang Nabi yang membawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap dengan (perantara)mu kepada Tuhanku dalam hajatku ini, agar dipenuhiNya untukku. Ya Allah jadikanlah ia pemberi syafa'at kepadaku, dan berilah aku syafa'at (pert-longan) di dalamnya." la berkata, "Laki-laki itu kemudian melakukannya, sehingga ia sembuh." (HR. Ahmad, hadits shahih)
Hadits di atas mengandung pengertian bahwa Rasulullah berdo'a untuk laki-laki buta tersebut dalam keadaan beliau masih hidup. Maka Allah mengabulkan do'anya. Rasulullah memerintahkan orang tersebut agar berdo'a untuk dirinya. Menghadap kepada Allah untuk meminta kepadaNya agar Dia menerima syafa'at Nabi-Nya . Maka Allah pun menerima do'anya.
Do'a ini khusus ketika Nabi masih hidup. Dan tidak mungkin berdo'a dengannya setelah beliau wafat. Sebab para sahabat tidak melakukan hal itu. Juga, orang-orang buta lainnya tidak ada yang mendapatkan manfa'at dengan do'a itu, setelah terjadinya peristiwa tersebut.
H. MEMBACA SHALAWAT BID’AH
Kita banyak mendengar lafazh-lafazh bacaan shalawat untuk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam yang diada-adakan (bid'ah) yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam, para sahabat, tabi'in, juga tidak oleh para imam mujtahid. Tetapi semua itu hanyalah buatan sebagian masyayikh (para tuan guru) di kurun belakangan ini. Lafazh-lafazh shalawat itu kemudian menjadi terkenal dikalangan orang awam dan ahli ilmu, sehingga mereka membacanya lebih banyak daripada membaca shalawat tuntunan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam. Bahkan mungkin mereka malah meninggalkan lafazh shalawat yang benar, lalu menyebarluaskan lafazh shalawat ajaran para syaikh mereka.
Jika kita renungkan mendalam makna shalawat-shalawat tersebut, niscaya kita akan menemukan di dalamnya pelanggaran terhadap petunjuk Rasul, orang yang kita shalawati. Di antara shalawat-shalawat bid'ah tersebut adalah:
1. Shalawat Basyisyiyah
lbnu Basyisy berkata, "Ya Allah, keluarkanlah aku dari lumpur tauhid. Dan tenggelamkanlah aku dalam mata air lautan keesaan. Dan lemparkanlah aku dalam sifat keesaan sehingga aku tidak melihat, mendengar atau merasakan kecuali dengannya."
Ini adalah ucapan orang-orang yang menganut paham Wahdatul Wujud.Yaitu suatu paham yang mendakwakan bahwa Tuhan dan makhIuk-Nya bisa menjadi satu kesatuan.Mereka menyangka bahwa tauhid itu penuh dengan lumpur dan kotoran, sehingga mereka berdo'a agar dikeluarkan daripadanya. Selanjutnya, agar ditenggelamkan dalam lautan Wahdatul Wujud.Sehingga bisa melihat Tuhannya dalam segala sesuatu. Bahkan hingga seorang pemimpin mereka berkata, "Dan tiadalah anjing dan babi itu, melainkan keduanya adalah tuhan kita. Dan tiadalah Allah itu, melainkan pendeta di gereja. "
Orang-orang Nasrani menyekutukan Allah (musyrik) ketika mereka mengatakan bahwa Isa bin Maryam adalah anak Allah. Adapun mereka, menjadikan segenap makhluk secara keseluruhan sebagai sekutu-sekutu Allah! Mahatinggi Allah dan apa yang diucapkan oleh orang-orang musyrik.
Oleh karena itu, wahai saudaraku sesama muslim, berhati-hatilah terhadap lafazh-lafazh bacaan shalawat bid'ah, karena akan menjerumuskanmu dalam perbuatan syirik. Berpegang teguhlah dengan apa yang datang dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam, seorang yang tidak mengatakan sesuatu menurut kehendak hawa nafsunya. Dan janganlah engkau menyelisihi petunjuknya, "Barangsiapa melakukan suatu amalan (dalam agama) yang tidak ada perintah dari kami, maka ia tertolak." (HR. Muslim)
2. Shalawat Nariyah
Shalawat nariyah telah dikenal oleh banyak orang. Mereka beranggapan, barangsiapa membacanya sebanyak 4444 kali dengan niat agar kesusahan dihilangkan, atau hajat dikabulkan, niscaya akan terpenuhi.
Ini adalah anggapan batil yang tidak berdasar sama sekali. Apalagi jika kita mengetahui lafazh bacaannya, serta kandungan syirik yang ada di dalamnya. Secara lengkap, lafazh shalawat nariyah itu adalah sebagai berikut,"Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk penghulu kami Muhammad, yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, dan semoga pula dilimpahkan untuk segenap keluarga, dan sahabat-nya sebanyak hitungan setiap yang Engkau ketahui."
Aqidah tauhid yang kepadanya Al-Quranul Karim menyeru, dan yang dengannya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam mengajarkan kita, menegaskan kepada setiap muslim agar meyakini bahwa hanya Allah semata yang kuasa menguraikan segala ikatan. Yang menghilangkan segala kesedihan. Yang memenuhi segala kebutuhan dan memberi apa yang diminta oleh manusia ketika ia berdo'a.
Setiap muslim tidak boleh berdo'a dan memohon kepada selain Allah untuk menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakit-nya, bahkan meski yang dimintanya adalah seorang malaikat yang diutus atau nabi yang dekat (kepada Allah).
Al-Qur'an mengingkari berdo'a kepada selain Allah, baik kepada para rasul atau wali. Allah berfirman,
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلاَ تَحْوِيلا(56)أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا(57)
"Katakanlah, 'Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memin-dahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmatNya dan takut akan siksaNya; sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti." (Al-lsra': 56-57)
Para ahli tafsir mengatakan, ayat di atas turun sehubungan dengan sekelompok orang yang berdo'a dan meminta kepada Isa Al-Masih, malaikat dan hamba-hamba Allah yang shalih dan jenis makhluk jin.
Bagaimana mungkin Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam akan rela, jika dikatakan bahwa beliau kuasa menguraikan segala ikatan dan menghilangkan segala kesedihan. Padahal Al-Qur'an menyeru kepada beliau untuk memaklumkan,
قُلْ َّلآ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
"Katakanlah, 'Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (Al-A'raaf: 188)
"Seorang laki-laki datang kepada Rasululllah Shallallaahu 'alaihi wa Salam lalu ia berkata kepada beliau, 'Atas kehendak Allah dan kehendakmu." Maka Rasulullah bersabda, 'Apakah engkau menjadikan aku sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah? Katakanlah, "Hanya atas kehendak Allah semata." (HR. Nasaa'i, dengan sanad shahih)
Di samping itu, di akhir lafazh shalawat nariyah tersebut, terdapat pembatasan dalam masalah ilmu-ilmu Allah. Ini adalah suatu kesalahan besar.Seandainya kita membuang kata "Bihi" (dengan Muhammad), lalu kita ganti dengan kata "BiHaa" (dengan shalawat untuk Nabi), niscaya makna lafazh shalawat itu akan menjadi benar. Sehingga bacaannya akan menjadi seperti berikut ini:"Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk Muhammad, yang dengan shalawat itu diuraikan segala ikatan ..."
Hal itu dibenarkan, karena shalawat untuk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam adalah ibadah, sehingga kita boleh bertawassul dengannya, agar dihilangkan segala kesedihan dan kesusahan.Kenapa kita membaca shalawat-shalawat bid'ah yang merupakan perkataan manusia, kemudian kita meninggalkan shalawat lbrahimiyah yang merupakan ajaran AI-Ma'sum?
3. Shalawat dalam Kitab Ad'iyatush Shabaahi wal Masaa'i.
Dalam kitab Ad'iyatush Shabaahi wal Masaa'i, karya seorang syaikh besar dari Suriah Ia mengatakan, "Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, yang dari cahayanya Engkau ciptakan segala sesuatu."
"Segala sesuatu", berarti termasuk di dalamnya Adam, lblis, kera, babi, lalat, nyamuk dan sebagainya. Adakah seorang yang berakal akan mengatakan bahwa semua itu diciptakan dari cahaya Muhammad? Bahkan setan sendiri mengetahui dari apa ia diciptakan, juga mengetahui dari apa Adam diciptakan, sebagaimana dikisahkan dalam AI-Qur'an,
"Iblis berkata, 'Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia engkau ciptakan dari tanah." (Shaad: 76)
Ayat di atas mendustakan dan membatalkan ucapan syaikh tersebut.
Termasuk lafazh shalawat bid'ah adalah ucapan mereka, "Semoga keberkahan dan keselamatan dilimpahkan untukmu wahai Rasulullah. Telah sempit tipu dayaku maka perkenankanlah (hajatku) wahai kekasih Allah."
Bagian pertama dari shalawat ini adalah benar, tetapi yang berbahaya dan merupakan syirik adalah pada bagian kedua. Yakni dari ucapannya:
Hal ini bertentangan dengan firman Allah;"Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a kepadaNya?" (An-Naml: 62)
Dan firman Allah "Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri." (Al-An'am: 17)
Sedangkan Rasulullah sendiri, manakala beliau ditimpa suatu kedukaan atau kesusahan, beliau berdo'a, "Wahai Dzat Yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhlukNya), dengan rahmatMu aku Memohon pertolongan-Mu." (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan)
Jika demikian halnya, bagaimana mungkin kita diperbolehkan mengatakan kepada beliau, "Perkenankanlah hajat kami, dan tolong-lah kami?"Lafazh ini bertentangan dengan sabda Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam: "Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)
4. Shalawat AI-Fatih
Lafazhnya:"Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, Sang Pembuka terhadap apa yang tertutup?"
Orang yang mengucapkan shalawat ini menyangka, bahwa barangsiapa membacanya maka baginya lebih utama daripada membaca khatam Al-Qur'an sebanyak enam ribu kali. Demikian, seperti dinukil oleh Syaikh Ahmad Tijani, pemimpin thariqah Tijaniyah.
Sungguh amat bodoh jika terdapat orang yang berakal mempercayai hal tersebut, apatah lagi jika ia seorang muslim. Sungguh amat tidak mungkin, bahwa membaca shalawat bid'ah tersebut lebih utama daripada membaca Al-Qur'an sekali, apatah lagi hingga enam ribu kali. Suatu ucapan yang tak mungkin diucapkan oleh seorang muslim.
Adapun menyifati Rasulullah dengan "Sang Pembuka terhadap apa yang tertutup" secara mutlak, tanpa membatasinya dengan kehendak Allah, maka adalah suatu kesalahan. Karena Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam tidak membuka kota Makkah kecuali dengan kehendak Allah. Beliau juga tidak mampu membuka hati pamannya sehingga beriman kepada Allah, bahkan ia mati dalam keadaan menyekutukan Allah. Bahkan dengan tegas Al-Qur'an menyeru kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam, "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi,tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya, ..." (Al-Qashash: 56)"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata." (AI-Fath: 1)
5. Shalawat dalam Kitab Dalaa 'ilul Khairaat
Pada bagian ke tujuh dari kitabnya mengatakan, "Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad selama burung-burung merpati berdengkur dan jimat-jimat (tamimah) bermanfaat."
Tamimah (suatu bentuk jimat) yaitu tulang, benang atau lainnya yang dikalungkan di leher anak-anak atau lainnya untuk menangkal atau menolak 'ain (pengaruh mata dengki).
Perbuatan tersebut tidak memberi manfaat kepada orang yang mengalungkannya, juga tidak terhadap orang yang dikalungi, bahkan ia adalah di antara perbuatan orang-orang musyrik.Rasulullah bersabda:"Barangsiapa mengalungkan jimat maka dia telah berbuat syirik". (HR. Ahmad, hadits shahih)
Lafazh bacaan shalawat di atas, dengan demikian, secara jelas bertentangan dengan kandungan hadits, karena lafazh tersebut menjadikan syirik dan tamimah sebagai bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Terdapat lagi lafazh bacaan shalawat dalam kitab Dalaa 'ilul Khairaat sebagai berikut: "Ya Allah limpahkanlah keberkahan atas Muhammad, sehingga tak tersisa lagi sedikit pun dari keberkahan, dan rahmatilah Muhammad, sehingga tak tersisa sedikit pun dari rahmat."
Lafazh bacaan shalawat di atas, menjadikan keberkahan dan rahmat, yang keduanya merupakan bagian dari sifat-sifat Allah, bisa habis dan binasa. Allah membantah ucapan mereka dengan firman-Nya, "Katakanlah, 'Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)." (AI-Kahfi: 109)
Dari semua penjelasan diatas maka tinggalkanlah semua shalawat-shalawat bid’ah sebab dapat membuat kita syirik pada Allah.Sedangkan shalawat yang disyari’ahkan adalah yang telah dituntunkan Allah dan Rasulnya.Berikut ini penjelasan keutamaan membaca shalawat untuk Rasulullah yang disyari’ahkan:
Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (Al-Ahzab: 56)
Imam Al-Bukhari meriwayatkan, Abu 'Aliyah berkata, "Shalawat Allah adalah berupa pujian-Nya untuk nabi di hadapan para malaikat. Adapun shalawat para malaikat adalah do'a (untuk beliau)." Ibnu Abbas berkata, "Bershalawat artinya mendo'akan supaya diberkati."
Maksud dari ayat di atas, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya yaitu, "Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala menggambarkan kepada segenap hamba-Nya tentang kedudukan seorang hamba-Nya, nabi dan kekasih-Nya di sisi-Nya di alam arwah, bahwa sesungguhnya Dia memujinya di hadapan para malaikat. Dan sesungguhnya para malaikat bershalawat untuknya. Kemudian Allah memerintahkan kepada penghuni alam dunia agar bershalawat untuknya, sehingga berkumpullah pujian baginya dari segenap penghuni alam semesta."
Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kita agar mendo'akan dan bershalawat untuk Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam. Bukan sebaliknya, memohon kepada beliau, sebagai sesembahan selain Allah, atau membacakan Al-Fatihah untuk beliau, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian manusia.
Bacaan shalawat untuk Rasulullah yang paling utama adalah apa yang beliau ajarkan kepada para sahabat, ketika beliau bersabda, "Katakanlah, Ya Allah limpahkanlah rahmat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, limpahkanlah berkah untuk Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan berkah untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia." (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Rasulullah bersabda, "Jika kalian mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan, kemudian bershalawatlah untukku. Karena se-sungguhnya barangsiapa yang bershalawat untukku satu kali, Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mohonkanlah kepada Allah wasilah untukku. Sesungguhnya ia ada-lah suatu tempat (derajat) di Surga. Ia tidak pantas kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku berharap bahwa hamba itu adalah aku. Barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka ia berhak menerima syafa'atku." (HR. Muslim)
Do'a memintakan wasilah seperti yang diajarkan Rasulullah dibaca dengan suara pelan. Ia dibaca seusai adzan dan setelah membacakan shalawat untuk nabi. Do'a yang diajarkan beliau yaitu: "Ya Allah, Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna ini. Dan shalat yang akan didirikan. Berikanlah untuk Muhammad wasilah (derajat) dan keutamaan. Dan tempatkanlah ia di tempat terpuji sebagaimana yang telah Engkau janjikan." (HR. Al-Bukhari)
Membaca shalawat atas Nabi ketika berdo'a, sangat dianjurkan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah : "Setiap do'a akan terhalang, sehingga disertai bacaan shalawat untuk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam." (HR. AI-Baihaqi, hadits hasan)
Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berpetualang di bumi, mereka menyampaikan kepadaku salam dari umatku." (HR Ahmad, hadits shahih)
Bershalawat untuk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam sangat dianjurkan, terutama pada hari Jum'at. Dan ia termasuk amalan yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bertawassul dengan shalawat ketika berdo'a adalah dianjurkan. Sebab ia termasuk amal shalih. Karena itu, sebaiknya kita mengucapkan, "Ya Allah, dengan shalawatku untuk Nabimu, bukakanlah dariku kesusahanku... Semoga Allah melimpahkan berkah dan keselamatan untuk Muhammad dan keluarganya."
Minggu, 22 Februari 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar