Sedikitnya 30 ribu orang yang tergabung dalam Hizbut Tahrir Indonesia menggelar aksi solidaritas di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Ahad (4/1). Banyak yang disuarakan dalam aksi ini. Salah satunya menentang agresi militer Israel terhadap Palestina.
Bukan hanya itu, demonstran juga mengecam Amerika Serikat yang terus mendukung Israel. Tidak ketinggalan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ikut disorot karena dinilai tidak berdaya menghentikan serangan membabi-buta Israel.
Ketua Dewan Pimpinan Pusat HTI berharap negara-negara Islam di Timur Tengah mendukung masyarakat Palestina dengan mengirimkan tentara ke kawasan yang tengah bergolak itu. Selain itu, massa juga meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengirimkan pasukan Indonesia ke Palestina.
Keramaian mengutuk agresi militer Israel tidak hanya di kawasan Monas. HTI juga mengerahkan sekitar 500 ribu orang yang beraksi di 14 kota besar. Di Samarinda, Kalimantan Timur, misalnya, massa HTI memenuhi jalan protokol. Selain mengecam penggunaan kekuatan militer, massa juga meminta PBB segera menjatuhkan sanksi bagi Israel [baca: Israel Memulai Serangan Darat].
Di Islamic Centre, Jakarta Utara, ribuan umat Islam juga berkumpul. Selain memanjatkan doa untuk warga Palestina dan perdamaian dunia, mereka juga meminta kedaulatan Masjidil Aqsa dikembalikan sepenuhnya kepada Palestina. Saat ini masjid yang dipakai Nabi Muhammad SAW untuk Isra-Mi'raj itu berada di bawah kekuasaan Israel.
Lalu lintas di Jalan Margonda Raya, Depok, Jawa Barat, pagi tadi juga tersendat. Ribuan anggota Partai Keadilan Sejahtera dan simpatisannya berjalan kaki di sepanjang jalan utama yang menghubungkan Depok dengan Jakarta tersebut untuk mengutuk serangan Israel.
Di Surabaya, Jawa Timur, ratusan pelajar dari sejumlah sekolah menengah atas negeri berdemo di depan Gedung Grahadi. Sebagai bentuk dukungannya, para pelajar mengibarkan Bendera Merah Putih yang disandingkan dengan bendera Palestina.
Tidak hanya Jakarta dan Surabaya. Demonstrasi menentang agresi militer Israel merebak di mana-mana. Di Padang, misalnya, ribuan simpatisan Partai Keadilan Sejahtera dan Hizbut Tahrir Sumatra Barat bergabung dan memenuhi jalan-jalan utama di kota tersebut. Tidak hanya berunjuk rasa, massa PKS juga menghimpun dana untuk diserahkan kepada rakyat Palestina. Hingga Ahad siang sudah terkumpul dana sebesar Rp 2,2 miliar.
Di Yogyakarta, ribuan massa Hizbut Tahrir memprotes sikap para pemimpin negara-negara Islam di Timur Tengah yang tidak berbuat sesuatu untuk menghentikan serangan Israel ke Palestina. Sementara di Bandung, demonstrasi mengecam kekejian militer Israel terhadap bangsa Palestina juga digelar kader dan simpatisan PKS. Sebagai bentuk kebencian, massa sengaja membentangkan bendera Israel di tengah Jalan Merdeka sehingga terlindas oleh kendaraan yang melewati jalan tersebut.
Di Semarang, Jawa Tengah, ribuan massa Hizbut Tahrir berorasi di Kantor Radio Republik Indonesia (RRI) Semarang dan menyiarkan tuntutan agar Israel menghentikan agresinya ke Palestina, melalui corong radio. Sedangkan di Makassar, Sulawesi Selatan, massa berdemonstrasi dengan menggelar aksi teatrikal. Mereka juga membawa berbagai poster yang menggambarkan penderitaan rakyat Palestina akibat agresi militer Israel.
Sementara itu, invasi Israel yang belum ada tanda-tanda bakal berhenti, membuat berbagai kalangan di Tanah Air memberikan reaksi yang cenderung meningkatkan eskalasi politik. Sejumlah pos organisasi massa diserbu warga yang ingin berangkat berjihad ke Palestina.
Di Surakarta, Jawa Tengah, Front Pembela Islam sejak Jumat malam lalu membuka pos pendaftaran jihad Palestina. Pos ini pun langsung diserbu umat Islam setempat yang berkeinginan membela warga Palestina. Di Jatim, puluhan anggota Banser Jombang juga menyatakan diri sebagai pasukan berani mati dan siap diberangkatkan sewaktu-waktu.
Namun, Juru Bicara Departemen Luar Negeri Teuku Faizasyah pesimis terhadap upaya para relawan. Ia menilai untuk relawan yang bersifat medis saja amat tidak mudah masuk di wilayah terdepan. Apalagi menjadi relawan tempur. Akses ke wilayah Gaza sangat sulit ditembus [baca: Tim Relawan Mer-C Kembali Berangkat ke Palestina].
Karena itu, pemerintah mengimbau ekspresi solidaritas masyarakat dilakukan dalam bentuk bantuan uang atau obat-obatan sehingga bisa dibelikan bahan makanan yang diperlukan. Berdasarkan penelusuran SCTV, pemberian visa dalam praktik hubungan bernegara adalah otoritas negara masing-masing. Menilik situasinya amat sulit bagi Mesir dan Yordania jika harus memberikan visa bagi para sukarelawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar